Pandeglang, BantenGate.id — Gubernur Banten Andra Soni meresmikan tujuh Daerah Irigasi (DI) yang tersebar di empat wilayah sentra lumbung pangan Banten. Infrastruktur irigasi tersebut diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan produktivitas pertanian, sekaligus mendorong kesejahteraan petani.
Peresmian tujuh DI itu dipusatkan di Daerah Irigasi Cisata, Desa Tegal, Kecamatan Cikedal, Kabupaten Pandeglang, Rabu (2/9/2026). Sementara enam daerah irigasi lainnya diresmikan secara virtual dan diikuti kepala daerah masing-masing.
Tujuh daerah irigasi yang mendapat penanganan tersebut yakni DI Cisata, Cilember dan Cisangu Atas di Kabupaten Pandeglang. Kemudian DI Cibinuangeun dan Cikoncang di Kabupaten Lebak, DI Ciwuni di Kabupaten Serang, serta DI Cilampek di Kabupaten Tangerang.
Secara keseluruhan, penanganan tujuh daerah irigasi tersebut mencapai 6,90 kilometer dengan outcome layanan seluas 881,28 hektare sawah. Pekerjaan tersebut menggunakan anggaran APBD Provinsi Banten Tahun Anggaran 2025 dengan nilai mencapai Rp48,91 miliar.
Andra Soni mengatakan, pembangunan dan revitalisasi jaringan irigasi merupakan bagian dari komitmen Pemerintah Provinsi Banten menghadirkan infrastruktur dasar yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat, khususnya petani.
“Membangun irigasi berarti membangun fondasi ketahanan pangan, meningkatkan produktivitas pertanian, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani,” kata Andra.
Menurutnya, penguatan jaringan irigasi juga menjadi bagian dari dukungan terhadap program swasembada pangan di Provinsi Banten. Dukungan tersebut turut diperkuat melalui Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 2 Tahun 2025.
Melalui dukungan APBN berdasarkan Inpres tersebut, terdapat 12 daerah irigasi di Banten yang mendapatkan penanganan dengan total panjang sekitar 81,80 kilometer. Luas layanan yang ditargetkan mencapai 9.259 hektare dengan pagu anggaran sekitar Rp471,92 miliar.
Kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah itu, kata Andra, telah mendorong peningkatan luas layanan irigasi di Banten. Dari sebelumnya sekitar 52,5 persen, kini meningkat menjadi 62,45 persen.
“Ke depan tentu program itu akan terus dikerjakan secara bertahap agar dapat terus mendukung program ketahanan pangan di Provinsi Banten,” ujarnya.
Andra menegaskan, pembangunan jaringan irigasi tidak cukup hanya dilakukan pada saluran yang mengairi persawahan. Pemerintah juga perlu melakukan penanganan di wilayah hulu agar ketersediaan air tetap terjaga, terutama ketika memasuki musim kemarau.
“Kalau irigasinya sudah baik, tinggal kita tangani di wilayah hulunya. Sehingga ketika memasuki musim kemarau seperti sekarang ini, stok air ke persawahan tetap mengalir dan petani bisa terus meningkatkan produktivitasnya,” jelasnya.
Dorong Pertanian Modern
Selain memperbaiki infrastruktur irigasi, Pemprov Banten juga berupaya meningkatkan kesejahteraan petani melalui modernisasi sistem pertanian.
Andra Soni mengatakan, pihaknya akan memperluas penerapan Modern Advanced Agricultural System (MAAS) yang dikembangkan Kementerian Pertanian di Provinsi Banten. Penerapan sistem tersebut diharapkan mampu meningkatkan produktivitas pertanian secara signifikan. Dari yang sebelumnya berada di kisaran enam ton per hektare, produktivitas ditargetkan dapat meningkat hingga 12 ton per hektare.
“Lahan persawahan kita lindungi, saluran irigasi kita perbaiki, wilayah hulu kita tata, harga pupuk dan padi kita jaga, produktivitas kita tingkatkan dan petani akan semakin sejahtera. Itulah komitmen kami,” tegas Andra.
Dalam kesempatan tersebut, Andra juga berdialog dengan sejumlah petani yang hadir langsung maupun mengikuti kegiatan secara virtual. Ia sekaligus menyerahkan sejumlah bantuan peralatan pertanian kepada Kelompok Tani (Poktan) Telaga Baru.
Salah seorang anggota Poktan Telaga Baru, Aprudin (55), mengaku terbantu dengan revitalisasi saluran irigasi Cisata. Menurutnya, jaringan irigasi tersebut memiliki peran penting dalam menunjang aktivitas pertanian warga.
“Dulu irigasi ini kurang berfungsi secara baik, sehingga yang mengalir ke sawah juga sedikit,” ujar Aprudin.
Kondisi tersebut membuat petani sebelumnya lebih banyak mengandalkan air hujan untuk mengairi sawah. Waktu tanam pun sangat bergantung pada kondisi cuaca.
“Ya, kita di sini untung-untungan. Kalau airnya lagi bagus bisa panen, tapi kalau kurang apalagi sampai kemarau kayak gini ya gagal,” katanya.
Petani lainnya, Ubeh (55), mengatakan kondisi irigasi yang lebih baik mulai memberikan harapan terhadap peningkatan produktivitas pertanian. Sebelumnya, dalam satu kali panen, petani maksimal mendapatkan sekitar enam kuintal dari setiap petak sawah.
“Kalau sebelumnya kita hanya bisa sampai dua kali panen, tahun ini mah bisa sampai tiga kali panen dengan produktivitas yang lebih baik,” ujarnya.
Poktan Telaga Baru yang beranggotakan sekitar 54 orang juga menyatakan siap mendukung program pemerintah, termasuk modernisasi metode pertanian yang didorong Pemprov Banten.
“Kita dukung program Pak Gubernur untuk modernisasi metode pertanian, apalagi itu untuk kebaikan petani,” kata Ubeh.
Perkuat Jaringan dan Hulu
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Banten Arlan Marzan mengatakan, pihaknya akan terus memperkuat jaringan irigasi di berbagai wilayah Banten, termasuk melakukan penataan di kawasan hulu.
Menurut Arlan, jaringan irigasi pada dasarnya tidak menciptakan air. Ketersediaan air tetap bergantung pada sumber air, debit hujan, serta kondisi musim.
“Jaringan irigasi hanya memastikan setiap air yang tersedia dapat disalurkan dan dimanfaatkan sebaik mungkin oleh masyarakat dan petani,” ujarnya.
Karena itu, pembangunan irigasi tidak hanya diukur dari selesainya pekerjaan fisik. Hal yang lebih penting, kata Arlan, adalah memastikan petani dapat merasakan manfaat berupa aliran air yang lebih lancar, teratur, dan efisien.
Ia mengatakan revitalisasi jaringan juga ditujukan untuk menekan kehilangan air selama proses distribusi menuju lahan pertanian.
“Kehilangan air akibat saluran dapat ditekan. Tapi dengan pembangunan irigasi ini, air dapat dioperasionalkan melalui pintu-pintu yang dibagi,” katanya.
Dengan beroperasinya tujuh daerah irigasi tersebut, Pemprov Banten berharap produktivitas lahan pertanian meningkat dan ketahanan pangan daerah semakin kuat. Penguatan jaringan irigasi juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang pemerintah dalam memastikan petani tetap dapat berproduksi secara optimal, termasuk menghadapi ancaman kekeringan pada musim kemarau.–(red)








