Antibully Jakarta Festival 2026, Musik Jadi Jembatan Kesetaraan Anak Berkebutuhan Khusus dan Anak Tipikal

Antibully Jakarta Festival 2026, Musik Jadi Jembatan Kesetaraan Anak Berkebutuhan Khusus dan Anak Tipikal

Jakarta, BantenGate.id — Musik menjadi ruang pertemuan yang mempertemukan anak berkebutuhan khusus dan anak tipikal dalam suasana setara melalui Antibully Jakarta Festival 2026 yang digelar PasarLagu di Citra Xperience, Sunken Plaza Lt. LG, Jakarta Pusat, Minggu (30/8/2026).

Festival yang dimulai pukul 15.00 WIB tersebut menghadirkan 31 performer muda dari berbagai latar belakang. Mereka tampil dalam satu panggung untuk berkarya, berinteraksi, saling mendukung, sekaligus menyampaikan pesan tentang pentingnya menghargai perbedaan dan menghentikan perundungan atau bullying.

Antibully Jakarta Festival menjadi penyelenggaraan keempat dalam perjalanan Antibully Festival yang pertama kali digelar di Yogyakarta pada 2023. Setelah itu, festival berlanjut ke sejumlah kota, termasuk Jakarta dan Cirebon.

Festival tersebut tidak sekadar dirancang sebagai pertunjukan musik. Penyelenggara ingin menghadirkan ruang pertemuan yang memungkinkan anak-anak mengalami secara langsung bagaimana perbedaan dapat hidup berdampingan tanpa sekat.

Sebanyak 31 performer yang tampil berasal dari empat label, yakni Teman Hebat Records, Superkids Records, Hebat Records, dan Senada Digital Records.

Dari Teman Hebat Records tampil 14 performer, yakni Junior Noya, Shafaminata, Ben Hite, Kinanti Ulfidiyanaa, Aisha Natasya, Vanessa Adelynn, Azka Farzana, Kaysan Raffan, Kenneth Trevi, Kenzie Rachel, Evi Lugvianty Craib, Jevon Christoper, Felice Rinardi, dan Jocelyn Rinardi.

Sementara Superkids Records menghadirkan sembilan performer, yakni Kennisha Alinda Gusman, Bebbie Zy, Annaila Balqis, Reva Kirana, Mikhaela Sinaga, Zahra Mora, Felin Natasha, Bunga Shaqilla, dan Mikhayla Xaviera.

Adapun Hebat Records diwakili Bintang Haviva dan Asmara Bulan. Sedangkan Senada Digital Records menghadirkan Amorra Melodiaz, Ivory Mei, Aisha Kamila, Sendi Permadie, Michelle Quinessha, dan Amira Kim.

Founder PasarLagu, Lamhot Ivan Tobing, mengatakan keterlibatan PasarLagu sebagai penyelenggara Antibully Festival berangkat dari kesamaan visi dengan Teman Hebat Records untuk menciptakan karya tanpa batas serta memberikan ruang yang setara bagi anak tipikal dan anak berkebutuhan khusus.

“Kami melihat adanya kesamaan visi dengan Teman Hebat Records untuk membuat sebuah karya tanpa batas tanpa melihat sebuah perbedaan. Dengan memberikan ruang yang setara antara anak tipikal dan anak berkebutuhan khusus,” ujar Lamhot.

Menurut Lamhot, menghadirkan performer dengan kebutuhan dan karakter yang beragam dalam satu panggung membutuhkan persiapan khusus. Penyelenggara harus memahami karakter masing-masing anak dan menyesuaikan kebutuhan mereka agar seluruh performer dapat merasa nyaman selama proses persiapan hingga pertunjukan.

Bagi PasarLagu, festival tersebut juga memiliki dimensi yang lebih luas karena dapat membuka kesempatan bagi musisi berkebutuhan khusus maupun musisi tipikal untuk memperkenalkan karya, memperoleh apresiasi, serta berkembang dalam ekosistem industri musik.

Seluruh karya artis yang tampil juga berada dalam ekosistem distribusi digital PasarLagu. Karena itu, pertunjukan langsung menjadi bagian dari strategi promosi yang melengkapi distribusi digital dan media sosial.

Berawal dari Keresahan terhadap Bullying

Gagasan Antibully Festival tidak terlepas dari keresahan Yuly Twins, salah satu penggagas festival. Ia melihat anak berkebutuhan khusus kerap dinilai lebih dahulu dari keterbatasan atau perbedaan yang mereka miliki sebelum masyarakat mengenal kemampuan, minat, karakter, dan karya mereka.

Menurut Yuly, ketidaktahuan dan ketidakpahaman terhadap perbedaan dapat menciptakan jarak sosial yang kemudian berkembang menjadi stigma hingga bullying.

Karena itu, edukasi mengenai penerimaan terhadap perbedaan dinilai tidak cukup hanya melalui nasihat agar anak tidak mengejek atau membully orang lain. Anak-anak perlu mendapatkan pengalaman langsung untuk bertemu, bermain, berinteraksi, dan berkarya bersama mereka yang memiliki kondisi berbeda.

Antibully Festival kemudian dirancang sebagai ruang pertemuan tersebut.

Yuly menegaskan, festival tidak dimaksudkan menjadi panggung khusus bagi anak berkebutuhan khusus. Sebaliknya, festival harus menjadi panggung bersama tempat seluruh anak memiliki kesempatan yang sama untuk membawa karya dan memperoleh apresiasi.

“Berbeda bukan berarti harus sendiri atau terpisah, dan bersama bukan berarti harus menjadi sama,” tegas Yuly.

Menurut Yuly, 31 performer yang tampil pada Antibully Jakarta Festival bukan sekadar angka. Mereka membawa 31 cerita, karakter, kemampuan, pengalaman, tingkat kepercayaan diri, dan cara berekspresi yang berbeda.

Perbedaan tersebut justru menjadi kekuatan festival. Setiap anak tidak harus memiliki kemampuan yang sama untuk memperoleh kesempatan yang sama.

Salah satu momen yang paling berkesan terjadi ketika Kenneth Trevi, penyanyi berkebutuhan khusus asal Bandung, membawakan lagu “Aku Berbeda Aku Bisa.”

Anak-anak berkebutuhan khusus dan anak tipikal kemudian naik ke panggung, bernyanyi, berjoget, melompat, dan mengekspresikan kegembiraan dengan cara masing-masing.

Bagi Yuly, momen tersebut menjadi gambaran nyata mengenai makna inklusi. Inklusi bukan upaya membuat semua orang menjadi sama, melainkan menciptakan ruang agar setiap orang dapat menjadi dirinya sendiri sekaligus merasa diterima dan menjadi bagian dari lingkungan.

Musik sebagai Medium Antiperundungan

Penggagas Antibully Festival lainnya, Rulli Aryanto, melihat musik sebagai medium efektif untuk menyampaikan pesan antiperundungan.

Menurut Rulli, musik dapat diterima berbagai kelompok usia dan latar belakang. Pesan sosial yang dibawa melalui musik juga dapat disampaikan secara lebih natural tanpa terkesan menggurui.

Respons positif dari para performer, orang tua, keluarga, sahabat, pendukung dari luar Jakarta, hingga sejumlah brand menunjukkan bahwa gagasan mengenai ruang musik inklusif mendapat dukungan.

Namun, bagi Rulli, hal terpenting bukan sekadar jumlah performer atau kemeriahan acara. Ia melihat kebersamaan antara performer berkebutuhan khusus dan performer tipikal sebagai pesan utama festival.

Pengalaman tampil dalam ruang yang menerima keberagaman juga dinilai dapat membantu meningkatkan kepercayaan diri anak berkebutuhan khusus untuk berkarya dan tampil di hadapan publik.

Dalam konteks industri musik, Rulli menilai perkembangan teknologi digital telah membuka peluang yang lebih luas bagi siapa pun yang memiliki karya.

Karena itu, industri musik tidak seharusnya hanya berbicara mengenai popularitas dan komersialitas. Setiap orang yang memiliki karya membutuhkan kesempatan untuk memperkenalkan karyanya kepada publik.

Antibully Jakarta Festival menjadi titik temu antara musik, industri kreatif, edukasi sosial, dan inklusivitas. Empat label yang terlibat memperlihatkan bahwa ekosistem musik dapat memberikan ruang kepada talenta muda dengan latar belakang dan kemampuan yang beragam.

Bagi Rulli, pesan yang hendak disampaikan festival tersebut sederhana, yakni stop bullying.

Setiap manusia memiliki kekurangan, kelebihan, dan talenta masing-masing. Karena itu, seseorang tidak seharusnya dinilai hanya dari kekurangannya, tetapi juga dari kemampuan, karya, dan kontribusi yang dapat diberikan.

Membangun Ruang Tanpa Sekat

Yuly berharap pengalaman yang diperoleh anak-anak dan keluarga selama festival tidak berhenti ketika acara berakhir. Nilai kebersamaan tersebut diharapkan dibawa ke lingkungan sehari-hari.

Ia ingin anak-anak terbiasa bertemu, bermain, belajar, dan berkarya bersama tanpa menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk menjaga jarak.

Orang tua juga diharapkan semakin memahami bahwa anak berkebutuhan khusus tidak harus selalu berada di ruang yang terpisah. Mereka memiliki hak yang sama untuk berinteraksi dan mengambil bagian dalam kehidupan sosial.

Antibully Festival selanjutnya akan kembali hadir di kota-kota lain dengan membawa gagasan serupa.

Bagi Yuly, keberhasilan terbesar festival bukan semata ketika acara semakin besar atau menjangkau lebih banyak kota. Keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika masyarakat telah terbiasa menerima perbedaan meskipun tidak ada Antibully Festival yang sedang berlangsung.

Ketika anak-anak dapat berteman, bermain, belajar, dan berkarya bersama tanpa lagi mempermasalahkan perbedaan, jembatan yang dibangun melalui festival tersebut dinilai telah berdiri dengan sendirinya.

Antibully Jakarta Festival 2026 pada akhirnya menunjukkan bahwa panggung musik dapat memiliki fungsi lebih luas daripada sekadar tempat pertunjukan.

Melalui 31 performer dengan karya dan cerita masing-masing, festival tersebut membawa pesan bahwa setiap anak berhak didengar, setiap karya layak diapresiasi, dan setiap manusia berhak mendapatkan ruang yang setara.

Musik pun menjadi jembatan untuk membuka pertemanan, membangun keberanian, mengikis stigma, serta mempertemukan mereka yang selama ini mungkin ditempatkan dalam ruang berbeda.— (Muhammad Fadhli)

Pos terkait