Wastra Janggawari, Kerajinan Perempuan Baduy Bernilai Jutaan Rupiah Menembus Mancanegara

Wastra Janggawari, Kerajinan Perempuan Baduy Bernilai Jutaan Rupiah Menembus Mancanegara
Wastra Janggawari, produk kaum perempuan Baduy, bernilai tinggi.--(Foto: BG)
Oleh:  H. Edi Murpik

Di balik selembar kain tenun Janggawari, tersimpan ketekunan, kesabaran, dan warisan pengetahuan leluhur masyarakat adat Baduy. Benang demi benang dirajut menggunakan alat tenun tradisional, menghasilkan kain bermotif khas dengan kualitas tinggi yang memiliki nilai ekonomi hingga jutaan rupiah dan sudah terjual ke mancanagara.

Kain Tenun Janggawari bukan sekadar produk kerajinan tangan. Bagi masyarakat Baduy di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, kain ini menjadi bagian dari identitas budaya yang diwariskan secara turun-temurun, terutama melalui keterampilan dan dikerjakan pada waktu tertentu oleh perempuan Baduy terpilih. Kain tenun melambangkan keteguhan terhadap adat yang diwariskan secara turun-temurun.

Di tengah perkembangan industri tekstil modern, Janggawari tetap mempertahankan karakter pembuatannya yang tradisional. Prosesnya mengandalkan keterampilan tangan, ketelitian, serta pengalaman yang diperoleh melalui proses belajar panjang dalam lingkungan keluarga dan masyarakat adat.

Keistimewaan tersebut menjadikan kain Janggawari sebagai salah satu produk tenun Baduy dengan kualitas tinggi. Harganya berkisar Rp1,5 juta per lembar, bergantung pada bahan, kerumitan motif, kualitas pengerjaan, dan karakteristik kain yang dihasilkan. Kain Janggawari perlembar berukuran ukuran 2 meter X 1,5 meter.

Nilai tersebut tidak hanya mencerminkan harga bahan baku, tetapi juga waktu, keterampilan, dan pengetahuan tradisional yang menyertai proses pembuatannya.

Wastra Janggawari, produk tenun kaum perempuan Baduy.–

Menenun kain Janggawari bukan pekerjaan yang dapat diselesaikan dalam hitungan jam. Untuk menghasilkan satu lembar kain, seorang penenun dapat menghabiskan waktu sekitar satu bulan hingga satu setengah bulan.

Di Kampung Kadu Ketug 1, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Saonah, yang akrab disapa Teh Anah, menjadi salah satu perempuan Baduy Luar yang masih menekuni tradisi menenun secara turun-temurun.

Teh Anah menjelaskan, ia mempelajari tenun Wastra Janggawari, dari orang tuanya secara turun temurun. Ia belajar menenun sejak usia remaja. Selain menenun khas motif Janggawari, ia juga menenun model lain seperti selendang dan kain sarung.

Ia juga menggambarkan bahwa menenun tidak dapat sepenuhnya dibatasi oleh hitungan waktu. “Nenun mah teu tangtu,” tuturnya, yang berarti menenun tidak bisa dipaksakan oleh waktu.

Ungkapan sederhana itu menggambarkan karakter pekerjaan menenun yang membutuhkan ketekunan dan kesabaran. Setiap penenun memiliki proses kerja tersendiri, bergantung pada motif, ukuran kain, keterampilan, serta waktu yang tersedia di sela-sela aktivitas sehari-hari.

Bagi Teh Anah dan kaum perempuan Baduy lainnya, menenun bukan sekadar menghasilkan barang untuk dijual. Aktivitas ini juga menjadi cara mempertahankan warisan leluhur agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Tenun Baduy ,Warisan yang Harus Dijaga

Kepala Desa Kanekes, Jaro Oom, mengatakan, kerajinan wastra Janggawari menjadi bagian penting dalam upaya menjaga keberlangsungan kehidupan masyarakat adat Baduy. Selain Janggawari kerajinan MHA Baduy, juga ada Kerajinan Koja ( sejenis tas) untuk membawa barang. Koja terbuat dari bahan kulit kayu teureup. Ada juga selendang, kain sarung, ikat kepala, juga ada kerajinan golok denci Baduy.

Jaro Oom menyampaikan terimakasih kepada  warga yang melakukan saba Baduy, pulangnya membeli hasil kerajinan warga Baduy.

“Terima kasih kepada para pengunjung yang sudah membeli produk kerajinan masyarakat Baduy,”kata jaro Oom di Kadu Ketug, Minggu ( 25/10/2026).

Bagi masyarakat Baduy, kain tenun memiliki kedudukan yang lebih luas daripada sekadar komoditas perdagangan. Kain tersebut berkaitan dengan keterampilan tradisional, identitas budaya, dan pengetahuan yang diwariskan melalui kehidupan keluarga.

Karena itu, pengembangan pasar tenun Janggawari perlu berjalan beriringan dengan pelestarian adat. Peningkatan nilai ekonomi diharapkan dapat memberikan manfaat kepada para penenun, tanpa menghilangkan karakter tradisional yang menjadi keistimewaan kain tersebut.

Janggawari memperlihatkan bahwa warisan budaya dapat memiliki nilai ekonomi tinggi sekaligus tetap berakar pada kehidupan masyarakat yang menjaganya. Dukungan terhadap para penenun menjadi penting agar keterampilan yang diwariskan selama bertahun-tahun tidak berhenti pada satu generasi.

Motif yang Hidup dalam Ingatan
Kaum perempuan Baduy dengan tekun menenun Kain.–(Foto: BG)

Salah satu hal menarik dari tradisi tenun Baduy adalah cara pengetahuan tentang motif diwariskan. Keterampilan tersebut tidak selalu diajarkan melalui gambar atau catatan tertulis, melainkan melalui pengamatan, praktik langsung, dan kebiasaan yang berlangsung dalam keluarga.

Sejak kecil, anak perempuan Baduy mengenal aktivitas menenun di lingkungan rumah. Mereka memperhatikan bagaimana benang disusun, bagaimana alat tenun digunakan, dan bagaimana sebuah kain perlahan-lahan terbentuk.

Proses belajar seperti ini membentuk hubungan erat antara keterampilan tangan dan ingatan. Pengetahuan mengenai teknik menenun menjadi bagian dari pengalaman yang tumbuh bersama kehidupan sehari-hari.

Janggawari menempati posisi istimewa di antara beragam motif tenun Baduy. Motif ini dikenal sebagai salah satu jenis tenun dengan kualitas tinggi dan harga relatif mahal dibandingkan sejumlah produk tenun lainnya.

Keindahan kain tidak hanya terletak pada tampilan motifnya, tetapi juga pada kerapian pengerjaan dan karakter tradisional yang dipertahankan.

Dalam kehidupan masyarakat Baduy, kain tradisional juga memiliki hubungan dengan nilai adat dan identitas komunitas. Karena itu, upaya melestarikan Janggawari tidak cukup hanya dengan memperbanyak produksi. Pengetahuan, keterampilan, dan konteks budaya yang menyertainya perlu tetap dijaga.

Dari Kampung Adat Menuju Pasar Mancanegara
PJU Kantah ATR/BPN Lebak, Moch. Ikhsan Nugraha, mencoba mengenakan kain Janggawari. -(Foto: BG)

Tenun Baduy telah lama dikenal di luar wilayah asalnya. Produk ini tidak hanya dipasarkan kepada wisatawan yang berkunjung ke kawasan Baduy, tetapi juga diperkenalkan melalui pameran, promosi pemerintah, dan jaringan pemasaran yang lebih luas.

Laporan ANTARA News Banten berjudul Penenun Badui Itu Wariskan Budaya pada Generasi Penerus, edisi 6 Oktober 2024, mengungkapkan bahwa kain tenun Baduy telah dipasarkan hingga ke luar negeri.

Dalam laporan tersebut, promosi kain tenun Baduy disebut melibatkan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) serta dukungan berbagai pihak. Kain tradisional Baduy juga pernah diperkenalkan melalui ajang fesyen internasional, termasuk London Fashion Week.

Pencapaian tersebut memperlihatkan bahwa kerajinan yang tumbuh dari lingkungan adat memiliki peluang untuk dikenal di panggung global. Keunikan motif, proses pembuatan tradisional, serta keterkaitannya dengan kehidupan masyarakat menjadi karakter yang membedakannya dari produk tekstil industri.

Meski demikian, pengenalan ke pasar internasional perlu berjalan seiring dengan penghormatan terhadap nilai adat dan kepentingan para perajin. Popularitas produk idealnya memberikan manfaat nyata bagi perempuan yang mengerjakan kain tersebut.

Janggawari memiliki peluang untuk menjadi bagian dari pengembangan wastra Indonesia, terutama karena kualitas pengerjaan dan proses pembuatannya menawarkan nilai yang tidak dapat dinilai hanya berdasarkan ukuran kain.

Pemerintah daerah, pelaku usaha, komunitas budaya, dan masyarakat luas dapat berperan melalui promosi, pameran, pendampingan pemasaran, serta pengenalan produk kepada konsumen yang menghargai proses pembuatannya.

Janggawari, Dirajut dengan Ketekunan
Seorang pengunjung Saba Baduy, mencoba belajar menenun Wastra Janggawari, di Kadu Ketug 1, Kanekes.–(Foto: BG)

Selembar kain Janggawari menyimpan cerita tentang perempuan yang tekun bekerja, pengetahuan yang diwariskan lintas generasi, dan masyarakat adat yang berupaya mempertahankan identitasnya di tengah perubahan zaman.

Waktu pengerjaan yang mencapai satu hingga satu setengah bulan menjadi pengingat bahwa kualitas tidak lahir secara instan. Ada ketelitian dalam setiap susunan benang, pengalaman dalam setiap tahapan pengerjaan, serta tradisi yang terus hidup melalui tangan para penenun.

Harga jutaan rupiah menjadi salah satu gambaran nilai ekonomi kain tersebut. Namun, nilai yang lebih mendalam terletak pada keberlanjutan keterampilan dan kemampuan masyarakat Baduy menjaga warisan leluhur mereka.

Ketika Janggawari dikenal hingga mancanegara, yang diperkenalkan bukan hanya selembar kain, melainkan juga cerita tentang ketekunan, kebudayaan, dan kehidupan masyarakat adat Baduy.

Melestarikan Janggawari berarti menjaga agar cerita itu terus berlanjut—dari tangan ibu kepada anak perempuannya, dari kampung adat menuju dunia, tanpa kehilangan akar tradisi yang membuatnya istimewa.–(***)

 

*). Penulis: Ketua Dewan Pimpinan Daerah Komite Wartawan Reformasi Indonesia (DPD KWRI)Banten, 
    Pengurus Paguyuban Pasundan dan Pegia Budaya di Banten.-

Pos terkait