Dari Pelosok Baduy, Mahasiswa UI Buka Peluang Kerja Sama Akademik Internasional

Mahasiswa Universitas Indonesia melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat dan pendampingan kesehatan di kawasan Baduy, Kabupaten Lebak.
Mahasiswa UI dan Yayasan Yasmui, di perkampungan Baduy, dampingi kesehatan masyarakat Baduy Lebak.--(Foto: dian/BG)

Lebak, BantenGate.id – Pengabdian masyarakat tidak selalu harus berada di pusat kota atau panggung-panggung besar untuk mendapatkan perhatian. Di pelosok Baduy, Kabupaten Lebak, sejumlah mahasiswa Universitas Indonesia (UI) justru memilih jalan sunyi dengan memberikan edukasi kesehatan, pendampingan masyarakat, hingga pemulihan tanaman obat tradisional.

Kegiatan yang melibatkan mahasiswa Fakultas Farmasi, Fakultas Ekonomi, dan Fakultas Kedokteran UI tersebut merupakan tahun keempat kolaborasi Universitas Indonesia dengan Yayasan Yasmui dalam memberikan edukasi dan pendampingan kesehatan bagi masyarakat Baduy.

Koordinator Relawan Kampung Indonesia yang juga Ketua Yayasan Yasmui, M. Arif Kirdiat, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kepedulian generasi muda terhadap persoalan masyarakat, khususnya kelompok yang tinggal di kawasan terpencil dan memiliki keterbatasan akses pelayanan.

Menurut Arif, para mahasiswa yang berada di bawah bimbingan sejumlah guru besar dan profesor menjalankan berbagai kegiatan, mulai dari edukasi kesehatan, promosi pola hidup sehat, pemeriksaan kesehatan berkelanjutan, hingga pemulihan tanaman obat.

“Ini bukan kegiatan yang mudah. Lokasinya jauh dan tidak selalu menjadi tempat yang mudah untuk mendapatkan sorotan kamera, apalagi cepat terkenal dan masuk FYP,” ungkap Arif kepada media, Senin (2/11/2026).

Ia menjelaskan, selain UI, kegiatan pendampingan kesehatan di Baduy juga melibatkan Kampus Trisakti. Sementara itu, Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani) secara rutin mengirimkan mahasiswa koas kedokteran untuk menjalani stase kegawatdaruratan dan emergency di kawasan tersebut.

Arif sendiri baru dapat bergabung dengan rombongan mahasiswa UI pada 31 Oktober. Keterlambatan itu terjadi setelah penerbangan pesawat Twin Otter dari Waingapu menuju Lombok mengalami beberapa kali pemeriksaan mesin (engine check), sehingga dirinya tertinggal penerbangan lanjutan menuju Jakarta.

Sebelumnya, ia berada di Waingapu untuk menghadiri peresmian jembatan yang dibangun melalui kolaborasi SCTV dan Triputra. Jembatan tersebut berada di salah satu kawasan terpencil dengan kondisi akses jalan yang sulit, lokasi yang jauh, serta keterbatasan transportasi.

Bagi Arif, pengalaman mendampingi mahasiswa UI di Baduy bukan sekadar kegiatan sosial, tetapi juga kesempatan membuka jejaring dan peluang kolaborasi yang lebih luas bagi generasi muda Indonesia.

Dalam perjalanan pulang, saat berpisah dengan rombongan di pintu Tol Rangkasbitung, Arif sempat bercerita mengenai sejarah perjuangan Multatuli di Lebak, termasuk kisah rumah sakit misi yang berdiri atas inisiatif para romo di wilayah Lebak dan Bogor.

Percakapan tersebut kemudian berkembang menjadi pembicaraan mengenai potensi pengabdian di berbagai wilayah Banten yang masih membutuhkan perhatian, seperti kawasan sekitar Ujung Kulon, Cikotok, wilayah Kasepuhan, hingga sejumlah kawasan kepulauan.

Ia pun mendorong agar anak-anak muda yang memiliki kepedulian sosial tidak hanya diberi ruang untuk berkegiatan di dalam negeri, tetapi juga dibukakan akses komunikasi dan jejaring internasional.

“Saya bilang, tidak apa-apa kita berkegiatan di pelosok negeri, tetapi koneksi harus ke luar negeri. Jepang, Prancis, hingga Jerman harus bisa kita masuki,” ujarnya.

Bahkan, dalam kesempatan tersebut, Arif mengaku langsung menghubungkan para mahasiswa dengan Kyoto University di Jepang. Dari praktik lapangan dan kegiatan pengabdian masyarakat di Baduy, muncul peluang pengembangan kerja sama Farmasi UI untuk membuka Pusat Studi Obat-obatan Alami bersama CSEAS Kyoto, IRASEC Prancis, dan TIKA Turki.

Menurutnya, langkah tersebut penting agar praktik pengabdian masyarakat tidak berhenti sebagai kegiatan rutin, tetapi berkembang menjadi penelitian, pengembangan pengetahuan, dan kerja sama akademik lintas negara.

Terkait pembiayaan kegiatan, Arif juga menjelaskan bahwa berbagai aktivitas Relawan Kampung Indonesia selama ini mendapat dukungan dari sejumlah pihak dan institusi.

Di antaranya, Naniek Sudaryati Deyang yang pada bulan sebelumnya mendonasikan obat-obatan untuk masyarakat Baduy. Dukungan lainnya datang dari Pramono Anung dan Rano Karno yang memberikan ambulans khusus bagi warga Baduy, serta rekan-rekan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Banten.

Arif berharap pengalaman tersebut dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia untuk membangun orientasi pengabdian yang lebih bermakna.

Menurutnya, ukuran keberhasilan anak muda tidak semestinya hanya dilihat dari popularitas, jumlah pengikut media sosial, atau kegiatan yang ramai diperbincangkan.

Kepedulian terhadap masyarakat yang tinggal di wilayah terpencil juga merupakan bentuk kontribusi nyata bagi bangsa.

“Anak-anak muda ini adalah anak-anak bangsa yang memilih jalan sunyi pengabdian. Mereka harus kita tunjukkan bahwa anak muda Indonesia bukan hanya mereka yang mengejar popularitas semu, apalagi hanya untuk sebungkus nasi kotak semata,” tegasnya.

Ia menambahkan, generasi muda perlu mendapatkan kesempatan, akses, dan jejaring yang lebih luas agar potensi intelektual mereka dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus membawa nama Indonesia ke tingkat internasional.–(dian wahyudi)

Pos terkait