Langkah kecil seorang anak berusia dua tahun, napas yang tersengal di tanjakan, hingga tangan orang tua yang bergantian menggandeng dan menggendong anaknya mewarnai pendakian 65 anggota keluarga Ilalang ke Gunung Parakasak, Minggu (25/10/2026).
Di jalur pendakian yang menanjak, perjalanan tidak hanya menguji ketahanan fisik. Rombongan belajar tentang kesabaran, tanggung jawab, kerja sama, dan arti saling menjaga ketika menghadapi tantangan bersama.
Gunung Parakasak berada di wilayah perbatasan Kabupaten Serang dan Kabupaten Pandeglang, Banten. Dalam pendakian kali ini, rombongan melewati Jalur Cisuar yang berada di Desa Siketug, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Serang.
Peserta berasal dari berbagai generasi. Usia termuda tercatat dua tahun, sedangkan yang tertua 52 tahun. Mayoritas merupakan keluarga besar Sekolah Ilalang, sekolah alam yang berada di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak.
Bagi keluarga Ilalang, pendakian menjadi salah satu cara menerapkan pembelajaran di luar ruang kelas. Anak-anak tidak hanya diajak mengenal alam, tetapi juga mempraktikkan kepedulian, kemandirian, dan tanggung jawab melalui pengalaman langsung.
Nilai-nilai tersebut sejalan dengan berbagai kegiatan Sekolah Ilalang, mulai dari pengelolaan sampah, pembuatan kompos, hingga penanaman pohon. Kegiatan bersama seperti pendakian dan perkemahan juga menjadi ruang untuk mempererat hubungan orang tua dan anak.
Mendekatkan Orang Tua dan Anak

Rombongan berangkat dari Alun-alun Rangkasbitung pukul 06.00 WIB dan memulai pendakian sekitar pukul 08.00 WIB. Dengan peserta yang memiliki rentang usia dan kemampuan fisik berbeda, perjalanan berlangsung dengan ritme yang disesuaikan dengan kondisi rombongan.
Puncak Kabayan dicapai sekitar pukul 13.00 WIB. Rombongan kemudian kembali ke basecamp sekitar pukul 18.00 WIB.
Perjalanan yang berlangsung hampir sepuluh jam itu menyisakan cerita tentang kaki yang pegal, napas yang tersengal, dan lutut yang gemetar. Namun, setiap peserta memiliki kesempatan untuk belajar menghadapi tantangan sesuai kemampuannya.
Irvan, salah seorang peserta, mengikuti pendakian bersama istri dan anaknya. Ia mengaku sempat bingung menentukan siapa yang harus lebih dahulu didampingi selama perjalanan.
“Agak bingung mau menemani istri atau anak. Saya menjadikan naik gunung juga sekaligus tes mental, kalau tidak selamanya ayah dan ibu selalu di sisi anak. Dia harus siap dengan tantangan dan berani berbaur dengan orang lain,” ujarnya.
Menurut Irvan, pengalaman mendaki bersama keluarga dapat menjadi sarana untuk melatih keberanian dan kemandirian anak. Pada saat yang sama, orang tua memperoleh kesempatan untuk mendampingi anak menghadapi situasi yang berbeda dari keseharian mereka.
Pendiri Sekolah Ilalang, Abah Apri, juga menilai pengalaman bersama keluarga memiliki arti penting bagi tumbuh kembang anak.
“Pendakian ini jadi punya waktu lebih banyak dengan keluarga, termasuk anak-anak. Di usia mereka, sangat penting menabung kenangan yang menjadi bekal mereka dewasa,” katanya.
Bagi keluarga Ilalang, kebersamaan dalam perjalanan bukan hanya tentang berada di tempat yang sama, melainkan juga menyediakan waktu untuk saling mendampingi dan memahami.
Setiap Orang Punya Peran
Di tengah perjalanan, pembelajaran tidak hanya berlangsung antara orang tua dan anak. Rombongan juga mempraktikkan kerja sama dan pembagian tanggung jawab.
Anak-anak dan pemuda Ilalang mendapat tugas membantu koordinasi rombongan menggunakan handy talky (HT). Mereka menghubungkan peserta di bagian depan, tengah, dan belakang agar pergerakan rombongan tetap terpantau.
Sementara itu, para orang tua berbagi tugas, mulai dari mendampingi anak-anak hingga menyiapkan makanan dan perlengkapan. Sejumlah keluarga bahkan membawa bekal tambahan untuk dibagikan kepada peserta lain.
Pelajaran tentang tanggung jawab juga terlihat dari hal sederhana. Seorang anak berusia empat tahun membawa sendiri tas berisi camilannya. Sesuai usia dan kemampuannya, ia mulai belajar menjaga barang miliknya selama perjalanan.
Bagi Abah Apri, pengalaman seperti itu memberi kesempatan kepada setiap anggota komunitas untuk mengambil peran sesuai kemampuan masing-masing.
Semangat saling membantu terlihat ketika seorang anak menangis karena orang tuanya tertinggal jauh di belakang. Anggota rombongan berusaha menenangkannya dengan cara masing-masing, sehingga persoalan tersebut tidak hanya menjadi perhatian satu keluarga.
Kepemimpinan juga tampak dalam peran Pak Faisal yang memimpin pendakian. Ia memastikan rombongan tetap mengikuti jalur yang benar sekaligus memperhatikan peserta yang berjalan lebih lambat.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa memimpin rombongan bukan hanya soal menentukan arah, tetapi juga mengoordinasikan peserta, memperhatikan kondisi mereka, dan menjaga perjalanan tetap terkendali.
Keselamatan Menjadi Prioritas

Jalur pendakian Gunung Parakasak menawarkan vegetasi yang rapat, udara sejuk, serta sejumlah curug atau air terjun yang dilewati rombongan. Meski demikian, beberapa tanjakan tetap menguras tenaga, terutama bagi peserta yang membawa beban berat.
Di tengah perjalanan, rombongan menyaksikan seorang remaja mengalami kedinginan hingga tubuhnya menggigil. Remaja tersebut kemudian digendong dan ditandu, serta dibungkus bahan aluminium untuk membantu mempertahankan suhu tubuhnya.
Peristiwa itu menjadi pengingat bahwa pendakian bersama keluarga memerlukan persiapan yang matang. Kondisi fisik peserta, kecukupan makanan dan minuman, pakaian hangat, jas hujan, serta perlengkapan pertolongan pertama perlu diperhatikan sebelum perjalanan dimulai.
Persiapan juga harus mempertimbangkan usia dan kemampuan setiap peserta. Anak-anak membutuhkan pendampingan sesuai kondisi mereka, sementara orang dewasa perlu memastikan bahwa kebutuhan rombongan tetap terpenuhi sepanjang perjalanan.
Koordinasi antarpeserta dan pemantauan kondisi fisik menjadi bagian penting dari upaya menjaga keselamatan. Ketika ada peserta yang mengalami kesulitan, rombongan perlu mengutamakan penanganan yang tepat daripada memaksakan perjalanan menuju puncak.
Bagi keluarga Ilalang, perjalanan tidak semata-mata diukur dari keberhasilan mencapai tujuan. Memastikan seluruh anggota rombongan dapat kembali dengan selamat merupakan hal yang tidak kalah penting.
Pulang Membawa Kenangan
Pendakian Gunung Parakasak mungkin menyisakan rasa pegal selama beberapa hari. Namun, pengalaman yang diperoleh menjadi bagian dari proses belajar bersama.
Anak-anak berlatih menghadapi tantangan dan bertanggung jawab terhadap barang miliknya. Orang tua memperoleh kesempatan mendampingi anak dalam situasi nyata, sedangkan seluruh peserta belajar berbagi peran dan saling membantu.
Pengalaman itu sekaligus memperlihatkan bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Alam dapat menjadi ruang belajar ketika anak-anak memperoleh kesempatan untuk mempraktikkan kesabaran, tanggung jawab, kepedulian, dan gotong royong melalui kegiatan yang mereka jalani.
Bagi 65 anggota keluarga Ilalang, keberhasilan pendakian bukan sekadar tentang siapa yang paling cepat sampai di puncak. Lebih dari itu, perjalanan tersebut menjadi pengalaman tentang bagaimana menghadapi kesulitan bersama, menghargai kemampuan setiap anggota, dan menjaga satu sama lain.
Dari Gunung Parakasak, mereka membawa pulang lebih dari sekadar foto di puncak: kenangan bersama dan pelajaran tentang arti tumbuh sebagai keluarga dan komunitas.–( dian wahyudi)








