Lebak, BantenGate.id – Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Saija Tas di Kabupaten Lebak, Banten, terus berupaya mengembangkan produk tas etnik berbahan dasar kain tenun Baduy.
Produk Saija Tas, dirintis pada 2016. Saija Tas mengembangkan produk tas dengan memadukan bahan kain tenun Baduy dan desain yang mengikuti kebutuhan pasar. Bahan baku kain tenun didatangkan dari Baduy, sedangkan proses pembuatan tas dilakukan di Ciampea, Bogor, melalui kerja sama dengan keponakan pemilik usaha.
Dalam proses produksinya, Saija Tas masih mengandalkan fasilitas milik mitra, mulai dari peralatan, mesin, hingga tempat produksi. Kondisi tersebut membuat pengembangan usaha masih bergantung pada kerja sama yang telah berjalan selama ini.
Idah Hamidah (45) pelaku UMKM Saija Tas, mengungkapkan, keterbatasan permodalan menjadi salah satu kendala utama untuk membangun fasilitas produksi sendiri. Padahal, kemandirian produksi diharapkan dapat membuka peluang pengembangan usaha sekaligus meningkatkan nilai tambah kain tenun Baduy.
“Kendati di tengah keterbatasan tersebut, Saija Tas terus berusaha memperluas pemasaran produknya melalui jalur daring maupun luring,”kata Ida Hamidah, di sanggar produksinya, Rangkasbitung, Selasa sore (27/10/2026).
Untuk pemasaran daring, Saija Tas memanfaatkan Instagram melalui akun @saijatas_etnikbaduy, Facebook dengan nama Ummi Fathurrahman, serta layanan WhatsApp. Sementara itu, pemasaran secara luring dilakukan melalui kerja sama dengan sejumlah mitra, di antaranya Imah Batik Sahate, Rahaya Resort & Resto, Plaza Lebak, Museum Multatuli, dan pelaku wisata budaya Baduy.
Kerja sama pemasaran tersebut menggunakan sistem konsinyasi atau penitipan barang untuk dijual. Melalui pola ini, produk Saija Tas dapat menjangkau konsumen di berbagai lokasi, termasuk pengunjung yang tertarik pada produk kerajinan berciri khas budaya lokal.
Bagi Saija Tas, penggunaan kain tenun Baduy bukan sekadar pilihan bahan baku, melainkan juga upaya menghadirkan identitas budaya dalam produk yang memiliki nilai ekonomi. Pengembangan tas etnik diharapkan dapat memperluas pemanfaatan kain tenun tradisional sekaligus membuka peluang pasar bagi produk berbasis budaya masyarakat Baduy.
Berharap Dukungan Nyata bagi UMKM

Ida Hamidah, pemilik sanggar Saija Tas sering mengikuti pameran diberbagai daerah di wilayah Banten, yang difasilitasi pemerintah daerah. Pada pameran April lalu, di Lebak, produk Saija Tas, mendapat juara ke-1 dan mendapatkan piala.
“Saya berharap ke depan, Pemda Lebak ikut juga andil memberikan hadiah pembinaan berupa uang kadeudeuh agar bisa menambah permodalan untuk pengembangan usaha,”katanya.
Bagi pelaku usaha kecil, dukungan dalam bentuk uang pembinaan dinilai dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan usaha, seperti membeli bahan baku, meningkatkan kualitas produk, atau memperluas pemasaran.
Keluhan tersebut menjadi gambaran tantangan yang dihadapi sebagian pelaku UMKM dalam mengembangkan usaha, terutama ketika keterbatasan modal masih menjadi hambatan untuk meningkatkan kapasitas produksi.
Meski demikian, Saija Tas tetap berupaya mempertahankan usahanya melalui kolaborasi produksi dan perluasan jaringan pemasaran. Dukungan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, pengelola destinasi wisata, dan mitra usaha, diharapkan dapat membuka kesempatan lebih besar bagi produk lokal untuk berkembang.—( ridwan)








