Milangkala ke-18 IMC: Menenun Harapan di Tanah Cilangkahan

Milangkala ke-18 IMC: Menenun Harapan di Tanah Cilangkahan

Oleh: Ocit Abdurrosyid Siddiq

Milangkala ke-18 Ikatan Mahasiswa Cilangkahan (IMC) yang digelar di Gedung PKK Kabupaten Lebak, Rangkasbitung,  Ahad pagi (19/4/2026), bukan sekadar seremoni peringatan usia organisasi. Kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi yang mempertemukan idealisme mahasiswa dengan realitas sosial di tanah kelahiran.  Tema yang diusung, “IMC sebagai Central Iron Stock, Era Post-Graduation”, menghadirkan gagasan tentang peran lulusan perguruan tinggi sebagai sumber daya strategis bagi pembangunan daerah.

Istilah “iron stock” yang diangkat panitia memang terdengar ambisius. Namun, di balik itu tersimpan kegelisahan generasi muda tentang masa depan setelah menyelesaikan pendidikan tinggi. Gagasan tersebut mencerminkan dialektika antara eksistensi mahasiswa dan esensi pengabdian, yang terkadang dibungkus dalam istilah akademik yang belum tentu akrab bagi masyarakat luas.

Ketua IMC, Hendrik Arrizqy, dalam sambutannya menarik garis sejarah hingga masa pemerintahan Raffles. Ia menegaskan bahwa Cilangkahan pernah menjadi pusat peradaban yang memiliki nilai historis penting. Narasi tersebut memperkuat identitas kolektif masyarakat Banten Kidul agar tidak tergerus arus pembangunan yang kerap mengabaikan nilai-nilai lokal.

Namun, sejarah tidak cukup hanya dikenang. Sejarah harus diaktualisasikan dalam gerak nyata, termasuk dalam wacana pembentukan Kabupaten Cilangkahan yang telah lama menjadi aspirasi masyarakat wilayah selatan. Di titik ini, romantisme masa lalu harus berhadapan dengan tuntutan masa depan. Generasi muda dituntut tidak hanya memahami sejarah, tetapi juga mampu menuliskan babak baru bagi daerahnya.

Kehadiran Nevi Pahlevi dari Dispora memberikan perspektif berbeda. Orasi yang sistematis dan tenang itu menekankan pentingnya peran mahasiswa dalam pembangunan konkret. Ia mendorong mahasiswa untuk keluar dari zona nyaman retorika intelektual dan mulai menyentuh akar persoalan masyarakat. Pesan tersebut menjadi ajakan agar ilmu yang diperoleh di bangku kuliah tidak berhenti sebagai simbol akademik, melainkan menjadi alat analisis dan solusi bagi persoalan sosial.

Bupati Lebak, Hasbi Jayabaya, juga hadir dan menyampaikan pesan dengan gaya komunikatif. Ia mengakui keterbatasan waktu serta tantangan birokrasi yang kerap lambat merespons kebutuhan masyarakat. Pernyataan tersebut menunjukkan pendekatan kepemimpinan yang membuka ruang kolaborasi dengan mahasiswa sebagai mitra strategis dalam pembangunan wilayah selatan Lebak.

Ketua DPRD Lebak, Juwita, menambahkan perspektif kepemimpinan dengan mengutip pepatah “Leiden is Lijden”, yang berarti memimpin adalah menderita. Ia mengisahkan perjalanan pribadinya sebagai sosok introver yang harus belajar menjadi komunikator publik. Testimoni tersebut menegaskan bahwa kepemimpinan bukan panggung kemewahan, melainkan ruang pengabdian yang sarat tantangan, mulai dari sengketa lahan, persoalan ketenagakerjaan, hingga keterbatasan infrastruktur telekomunikasi.

Dalam diskusi tersebut juga mengemuka sinergi pemerintah daerah dan DPRD dalam pengembangan teknologi pertanian, termasuk penggunaan mesin pengolah padi di Bojong Leles. Program yang terinspirasi dari studi banding ke Karawang itu kini dikelola melalui BUMD Lebak Niaga. Kehadiran teknologi tersebut diharapkan meningkatkan nilai tambah bagi petani serta mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.

Di sektor kesehatan, muncul sorotan terhadap wilayah Binuangeun yang dikenal berhasil menangani kasus gigitan ular tanpa serum antibisa. Fenomena ini menjadi refleksi bahwa kreativitas lokal sering kali muncul di tengah keterbatasan fasilitas medis. Kondisi tersebut sekaligus mengingatkan pentingnya peningkatan layanan kesehatan dan pemerataan akses fasilitas medis di wilayah selatan Lebak.

Sebagai Ketua Komunitas Kamus Sunda Banten, penulis juga menekankan pentingnya menjaga bahasa dan budaya lokal. Penggunaan istilah akademik global tidak boleh membuat mahasiswa berjarak dengan masyarakat. Kearifan lokal harus menjadi jiwa gerakan intelektual, agar gagasan yang lahir tetap dekat dengan kebutuhan warga, termasuk persoalan harga pupuk, kondisi jalan, dan layanan dasar lainnya.

Optimisme terhadap pembentukan Kabupaten Cilangkahan sebagai calon daerah otonomi baru menjadi salah satu poin penting dalam pertemuan tersebut. Pemekaran wilayah dinilai dapat memperpendek rentang kendali pemerintahan serta mempercepat pemerataan pembangunan, khususnya di wilayah Banten Kidul.

Mahasiswa IMC diharapkan menjadi generasi yang siap mengisi ruang-ruang strategis tersebut. Persiapan menjadi sumber daya unggul harus dimulai sejak sekarang, melalui penguatan kapasitas, kepemimpinan, serta komitmen pengabdian kepada masyarakat.

Milangkala ke-18 IMC akhirnya menyisakan refleksi tentang makna kebermanfaatan di tengah perubahan zaman. Mahasiswa belajar menyampaikan gagasan, sementara pemimpin daerah belajar mendengar aspirasi masyarakat. Pertemuan ini diharapkan menjadi titik awal lahirnya generasi pemimpin yang tidak hanya cakap berartikulasi, tetapi juga tangguh dalam memperjuangkan kepentingan rakyat.

Semoga momentum ini memperkuat optimisme menuju Cilangkahan yang lebih mandiri, Lebak yang lebih bermartabat, serta masa depan yang lebih cerah bagi generasi mendatang.–(***)

*).Penulis  adalah  Ketua Komunitas Kamus Sunda Banten,

Pos terkait