Oleh: Ocit Abdurrosyid Siddiq
Pagi ini, ingatan saya tertahan pada sebuah fragmen sosiologis yang terjadi dalam acara halal bihalal Pengurus Wilayah Muhammadiyah (PWM) Banten, pada Ahad (19/4/2026)
Sebagai orang yang besar di rahim kultural Nahdlatul Ulama (NU), pernah “nyantri” secara intelektual di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) saat kuliah Akidah Filsafat di IAIN Sunan Gunung Djati Bandung, dan kini berkhidmat di Mathla’ul Anwar (MA), saya merasa seperti sebuah bejana yang menampung berbagai jenis arus air.
Semuanya cair, tidak ada yang membeku menjadi es yang keras dan melukai.
Peristiwa itu dimulai saat Prof. Muhadjir Effendy, dengan gaya yang tak terduga, meminta hadirin berdiri. Bayangkan, dalam format acara yang lesehan, perintah berdiri adalah sebuah upaya filosofis bagi mereka yang sudah sepuh atau memiliki lingkar pinggang yang “makmur”.
Hadirin sempat kaget, “Aya naon deui ieu?” Namun, kejutan sebenarnya bukan pada perintah berdirinya, melainkan pada diputarnya musik sholawat “Assalamualaika” yang dibawakan Maher Zain.
Di sinilah letak guyon tingkat tinggi itu. Prof. Muhadjir, seorang tokoh Muhammadiyah papan atas, “memaksa” para pimpinan Muhammadiyah dan Aisyiyah untuk berselawat dengan iringan musik. Sebuah pemandangan yang dalam kacamata purifikasi fikih yang kaku mungkin dianggap sebagai “anomali”.
Namun, bagi saya, ini adalah bentuk dekonstruksi performatif. Beliau sedang mencairkan kebekuan identitas. Beliau tahu persis psikologi massa; maka yang dipilih bukan sholawat gaya Habib Syech yang sangat “NU banget”—yang mungkin bisa membuat para pimpinan die-hard memilih walk out—melainkan gaya Maher Zain yang modern dan lintas batas.
Fenomena “MUNU” (Muhammadiyah-NU) ini memang sering menjadi bahan candaan yang elegan. Di Banten, istilah ini terasa sangat dekat. Kita sering melihat kader Muhammadiyah yang masih asyik ikut tahlilan karena respek pada tetangga, atau orang NU yang diam-diam mengagumi manajemen organisasi Muhammadiyah yang rapi.
Sebagai kader Mathla’ul Anwar, saya melihat diri saya berada di posisi sintesis. MA sering kali berdiri di antara dua kutub ini, menjadi penengah yang tidak kaku. Bagi saya, apa yang dilakukan Prof. Muhadjir adalah kecerdasan dalam mengelola irisan perbedaan.
Lucunya, persoalan identitas ini tidak hanya muncul dalam urusan selawat, tetapi juga dalam urusan “detik jam”. Saya teringat kejadian di Forum Silaturahmi Pondok Pesantren (FSPP) Banten. Sang ketua berseloroh tentang tamu yang hadir “sesuai undangan”, sementara acara baru dimulai satu jam kemudian.
Si tamu harus menunggu lama sendirian di kursi depan. Sang ketua dengan jenaka berujar, “Salahnya itu karena dia adalah Muhammadiyah.”
Tawa pecah seketika. Itu adalah puncak dari sebuah kerukunan.
Kita sudah sampai pada tahap di mana perbedaan—baik itu soal bacaan selawat maupun kedisiplinan waktu—tidak lagi menjadi bahan konflik, melainkan bahan heureuy (bercanda) yang menyatukan. Secara ontologis, kita satu dalam iman; secara aksiologis, kita berbeda dalam cara mengabdi.
Di pesisir Binuangeun, tempat saya sering merenung, ombak tidak pernah bertanya apakah ia harus pecah dengan cara Muhammadiyah atau NU. Ia hanya menjalankan tugasnya sebagai rahmat bagi alam.
Begitu pun kita di Banten. Ulah maceuh teuing soal perbedaan organisasi. Selama tujuannya adalah ittiba kepada Nabi, maka nada Maher Zain atau ketepatan jam Muhammadiyah adalah bumbu-bumbu sosiologis yang membuat hidup lebih berwarna.
Sebagai alumni filsafat, saya melihat ini sebagai filsafat perjumpaan. Kita tidak perlu menjadi sama untuk bisa bersama. Justru dalam tawa atas “kesalahan” menjadi Muhammadiyah di tengah acara yang telat, atau dalam canggungnya pimpinan Muhammadiyah saat bersholawat, di situlah kemanusiaan kita merayakan keberagaman dengan cair.
Caina herang, laukna beunang. Airnya tetap jernih, persatuan pun kita raih.
Itulah mengapa fenomena menyatukan yang selama ini terpisah mulai marak. Ada istilah MUNU, yang merupakan akronim Muhammadiyah dan NU; ada “Muhammadinu”, seperti seloroh Kiai Darel Azhar sebagai nama bagi perilaku orang Muhammadiyah yang mengamalkan kebiasaan orang NU. Bahkan MA yang merupakan Mathla’ul Anwar secara seloroh diplesetkan menjadi “Muhammadiyah Anyar”.
Demikian catatan kecil saya; seorang yang hidup di tengah tradisi NU, maka sah disebut Nahdliyin, dan seorang yang pernah “dibaiat” di IMM, boleh juga disebut Muhammadiyin. Kini aktif di Mathla’ul Anwar, maka saya pun sering disebut Anwariyin.–(***)
*). Penulis adalah Ketua Departemen Pendidikan dan SDM FSPP Provinsi Banten








