Lebak, BantenGate.id–Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Lebak, Dr. Yosep Mochamad Holis, S.Hut., M.Si., menegaskan pentingnya literasi dan pendokumentasian budaya melalui tulisan dan buku untuk menjaga warisan pengetahuan lokal agar tidak terputus antargenerasi.
Hal itu disampaikan Yosep saat menjadi narasumber dalam bedah buku bertajuk “Merawat Ingatan, Menjaga Pengetahuan Budaya Lokal” pada rangkaian Festival Literasi 2026 di Perpustakaan Saidjah Adinda, Rangkasbitung, Kamis (29/10/2026).
Menurut Yosep, literasi memiliki peran lebih luas daripada sekadar kemampuan membaca dan menulis. Literasi juga menjadi sarana untuk merekam ingatan kolektif, mendokumentasikan kearifan lokal, serta memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada generasi muda.
“Pengetahuan budaya lokal perlu didokumentasikan agar tidak hilang seiring perkembangan zaman. Melalui buku dan tulisan, nilai-nilai budaya dapat dipelajari, dipahami, dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujar Yosep.
Ia menilai, pendokumentasian budaya menjadi penting karena kekayaan Lebak tidak hanya tercermin dalam tradisi dan sejarah, tetapi juga dalam kearifan masyarakat, pengetahuan lokal, serta kuliner yang memiliki nilai budaya.
Menurutnya, upaya pelestarian kebudayaan perlu berjalan seiring dengan penguatan literasi. Dengan begitu, warisan budaya tidak hanya dikenang sebagai bagian dari masa lalu, tetapi tetap menjadi sumber pengetahuan dan identitas masyarakat.
Kegiatan tersebut membahas buku Konten Lokal dalam Kearifan Budaya Lebak : Antologi 60 Penulis Lebak sekaligus meluncurkan buku Etnogastronomi : Diplomasi Rasa dalam Budaya Lebak Jilid 1 dan 2.
Kedua karya tersebut merupakan hasil Bimbingan Teknis Kepenulisan Berbasis Konten Budaya Lokal Tahun 2026 yang menghimpun beragam pengetahuan dan kekayaan budaya Kabupaten Lebak dalam bentuk tulisan.
Yosep berharap, karya-karya berbasis budaya lokal dapat memperluas wawasan masyarakat sekaligus mendorong semakin banyak penulis untuk mengangkat potensi dan kearifan daerah.
“Budaya lokal memiliki banyak pengetahuan dan nilai yang layak diwariskan. Karena itu, dokumentasi melalui tulisan menjadi salah satu langkah penting agar kekayaan budaya Lebak tetap dikenal dan bermakna bagi generasi mendatang,” ungkapnya.
Diskusi tersebut turut menghadirkan Prof. Dr. Moh. Ali Fadillah, dosen sejarah sekaligus budayawan, serta Eka Nurul Hayat, penulis buku antologi, dengan Budi Harsoni sebagai moderator.
“Semoga melalui Festival Literasi ini, pendokumentasian budaya diharapkan semakin berkembang dan melibatkan berbagai kalangan, sehingga tradisi, sejarah, serta kearifan lokal Kabupaten Lebak tetap terjaga di tengah perubahan zaman,” pungkas Yosep.








