Ketua Umum Barisan Pelopor Tanto Sudiro Prihatin Video Anak Hina Jenderal AH Nasution

Ketua Umum Barisan Pelopor Tanto Sudiro Prihatin Video Anak Hina Jenderal AH Nasution
Ketua Umum Barisan Pelopor, Tanto Sudiro.--(Foto: dok/ist)

Jakarta, BantenGate.id– Ketua Umum Ikatan Keluarga Besar Barisan Pelopor, Drs. Tanto Sudiro, menyampaikan keprihatinan mendalam atas beredarnya video di media sosial yang memperlihatkan seorang anak kecil diduga melakukan penghinaan terhadap almarhum Jenderal Besar TNI Dr. A.H. Nasution, salah satu Pahlawan Nasional Republik Indonesia.

Tanto menilai tindakan tersebut tidak pantas dilakukan terhadap siapa pun, terlebih kepada sosok yang telah berjasa besar dalam perjuangan dan perjalanan sejarah bangsa Indonesia.

Menurutnya, peristiwa tersebut menjadi perhatian serius karena tidak hanya menyangkut persoalan etika dalam bermedia sosial, tetapi juga mencerminkan pentingnya pembenahan pendidikan moral, penanaman nilai kebangsaan, serta literasi digital berbasis Pancasila sejak usia dini.

“Saya merasa prihatin dan menyayangkan kejadian ini. Menghina orang yang telah meninggal dunia merupakan tindakan yang tidak pantas, terlebih yang menjadi sasaran adalah seorang Jenderal Besar dan Pahlawan Nasional yang memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara,” ujar Tanto Sudiro dalam keterangannya yang diterima Redaksi BantenGate.id, Rabu (4/11/2026) malam.

Tanto mengungkapkan, pada 15 Agustus 1944, Presiden Soekarno mendirikan organisasi Barisan Pelopor sebagai bagian dari gerakan perjuangan untuk mempercepat tercapainya kemerdekaan Indonesia.

Pada masa itu, A.H. Nasution merupakan salah seorang pemuda yang dipercaya memimpin Barisan Pelopor di Kota Bandung.

Seiring perjalanan waktu, ikatan sejarah tersebut terus dijaga oleh para keturunan anggota Barisan Pelopor, termasuk keluarga besar almarhum A.H. Nasution, yang kini berhimpun dalam Ikatan Keluarga Besar Barisan Pelopor.

“Saat ini, para keturunan anggota Barisan Pelopor, termasuk keturunan almarhum Jenderal Besar TNI A.H. Nasution, bergabung dalam Ikatan Keluarga Besar Barisan Pelopor. Saya mendapat amanah sebagai Ketua Umum organisasi tersebut,” jelasnya.

Soroti Peran Orang Tua dalam Pendidikan Moral Anak

Lebih lanjut, Tanto menilai kejadian tersebut harus menjadi bahan evaluasi bersama, khususnya bagi keluarga dalam mendidik dan mengawasi anak ketika menggunakan perangkat digital dan media sosial.

Menurutnya, anak-anak pada usia dini masih membutuhkan pendampingan untuk memahami batasan perilaku, etika berkomunikasi, serta dampak dari setiap konten yang dibuat maupun disebarluaskan di ruang digital.

Ia menekankan pentingnya peran orang tua dalam memberikan pemahaman sekaligus pengawasan terhadap aktivitas anak di media sosial.

“Anak seusia tersebut masih membutuhkan bimbingan dan pengawasan orang tua. Karena itu, kita perlu melihat persoalan ini sebagai momentum untuk memperkuat pendidikan moral di lingkungan keluarga. Dalam adat ketimuran, perilaku anak juga menjadi cerminan pendidikan yang diterimanya dari orang tua,” ungkapnya.

Tanto juga mengingatkan bahwa media sosial harus digunakan secara bijak dan bertanggung jawab. Kebebasan berekspresi tidak seharusnya dijadikan alasan untuk menyebarkan konten yang merendahkan martabat orang lain maupun mencederai nilai-nilai penghormatan terhadap sejarah bangsa.

Semangat Nilai-Nilai 1945

Menyikapi peristiwa tersebut, Tanto Sudiro bersama seluruh jajaran pimpinan dan anggota Ikatan Keluarga Besar Barisan Pelopor mengajak instansi pemerintah, orang tua, tenaga pendidik, organisasi kepemudaan, serta masyarakat luas untuk bersama-sama menghidupkan kembali nilai-nilai luhur perjuangan bangsa.

Nilai-nilai tersebut, kata dia, menjadi landasan perjuangan Barisan Pelopor yang harus terus diwariskan kepada generasi penerus, di antaranya jiwa kepeloporan, nasionalisme, patriotisme, heroisme, pantang menyerah, serta semangat menggelorakan jiwa dan nilai-nilai perjuangan 1945.

“Kami mengimbau seluruh elemen bangsa untuk bersama-sama mengangkat kembali nilai-nilai luhur yang selama ini terus dilanjutkan oleh Ikatan Keluarga Besar Barisan Pelopor. Di antaranya jiwa kepeloporan, nasionalisme, patriotisme, heroisme, pantang menyerah, serta menggelorakan jiwa, semangat, dan nilai-nilai 1945,” tegasnya.

Ia berharap peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan sejarah dan karakter bangsa tidak boleh diabaikan di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi.

Menurut Tanto, generasi muda perlu dikenalkan dengan sejarah perjuangan bangsa, jasa para pahlawan, serta nilai-nilai kebangsaan agar tumbuh menjadi generasi yang memiliki rasa hormat, tanggung jawab, dan kecintaan terhadap Tanah Air.

“Penghormatan kepada para pahlawan harus terus ditanamkan kepada generasi penerus. Pendidikan sejarah, pembentukan karakter, serta literasi digital berbasis Pancasila harus berjalan beriringan agar anak-anak kita tumbuh menjadi generasi yang cerdas, beretika, dan memiliki jiwa nasionalisme,” pungkasnya.—(red)

Pos terkait