Mang Odon Kunjungi Baduy untuk Ke-661 Kali, Perjalanan Saba Bumi dan Budaya Sarat Makna

Mang Odon Kunjungi Baduy untuk Ke-661 Kali, Perjalanan Saba Bumi dan Budaya Sarat Makna
Mang Odon (kanan) berada di kawasan Cijahe, dan sudah 661 kali saba budaya ke Baduy.--(Foto: dian wahyudi)

Lebak, BantenGate.id– Baduy bukan sekadar bentang alam yang menyimpan keindahan. Kawasan adat di Kabupaten Lebak, Banten, ini juga menjadi ruang belajar tentang kehidupan, kearifan lokal, dan keteguhan masyarakat dalam menjaga warisan leluhur.

Pesona tersebut kembali mengundang rombongan JANTERA Geografi IKIP/UPI bersama sejumlah guru Geografi dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) untuk melakukan perjalanan Saba Bumi dan Budaya Baduy pada 31 Oktober hingga 1 November 2026.

Perjalanan kali ini terasa istimewa. Di tengah kegiatan tersebut, rombongan berkesempatan bertemu dengan sosok yang dikenal dalam dunia fotografi dan dokumentasi budaya, yakni Mang Odon atau Don Hasman.

Menariknya, Mang Odon ternyata telah berada di kawasan Cijahe, Kabupaten Lebak, sejak pagi hari, Senin (2/11/2026). Kunjungannya kali ini bukan perjalanan biasa karena tercatat sebagai kunjungannya yang ke-661 ke wilayah Baduy.

Angka tersebut bukan sekadar catatan perjalanan. Di balik 661 kali kunjungan itu tersimpan kecintaan, konsistensi, dan ketertarikan mendalam terhadap kehidupan serta kebudayaan masyarakat Baduy yang terus dipertahankan lintas generasi.

Di bawah terik matahari siang, rombongan melanjutkan perjalanan menyusuri kawasan Cibeo. Mereka tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga berinteraksi langsung dengan masyarakat, mengenal lingkungan permukiman, serta melihat lebih dekat aktivitas warga di saung huma.

Kehangatan masyarakat Baduy menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut. Rombongan menyampaikan terima kasih kepada Puun Cibeo, Jaro, serta para baris kolot Cibeo yang telah menerima mereka di rumah Jaro.

Apresiasi juga disampaikan kepada warga Cibeo yang dengan ramah mendampingi rombongan berkeliling kampung, memperkenalkan lingkungan kehidupan masyarakat, hingga memberikan izin kepada para tamu untuk menempati rumah warga selama kunjungan berlangsung.

Bagi Titi Bachtiar, yang membagikan pengalaman perjalanan tersebut melalui unggahan di media sosial, perjumpaan dan penerimaan masyarakat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pengalaman mengenal kehidupan masyarakat Baduy.

Salah satu lokasi yang menjadi bagian dari perjalanan dan kegiatan pemotretan adalah kawasan Ciujung, tepatnya di perbatasan antara Baduy Luar dan Baduy Dalam atau Baduy Jero.

Kawasan tersebut menjadi ruang perjumpaan antara bentang alam dan kehidupan masyarakat adat yang hingga kini tetap mempertahankan tradisi leluhur.

Perjalanan Saba Bumi dan Budaya Baduy bukan semata-mata kunjungan wisata. Bagi kalangan pendidik Geografi dan IPS, pengalaman langsung seperti ini menjadi kesempatan berharga untuk memahami hubungan manusia dengan alam, tata kehidupan masyarakat adat, serta nilai-nilai budaya yang tidak selalu dapat dipelajari hanya melalui buku dan ruang kelas.

Ada banyak pelajaran yang dapat dipetik, mulai dari kesederhanaan, penghormatan terhadap alam, keramahan, hingga keteguhan dalam menjaga tradisi. Nilai-nilai tersebut semakin relevan untuk diperkenalkan kepada generasi muda di tengah perubahan zaman.

Sebanyak 661 kali kunjungan Mang Odon ke Baduy menjadi catatan tersendiri dalam perjalanan mengenal dan mendokumentasikan kehidupan masyarakat adat. Sementara itu, bagi rombongan JANTERA Geografi IKIP/UPI bersama para guru, perjalanan ini menjadi kesempatan untuk kembali belajar dari alam dan masyarakat yang menjaga warisan budaya dengan caranya sendiri.

Semoga seluruh rangkaian perjalanan senantiasa diberikan kelancaran, kesehatan, dan keselamatan. Sebab, mengenal Baduy bukan hanya tentang datang dan melihat, melainkan juga belajar menghormati kehidupan, adat istiadat, serta kearifan yang diwariskan oleh para leluhur.–(dian wahyudi)

Pos terkait