Tanah Datar, BantenGate.id – Suasana hangat memenuhi Gedung Nasional Maharajo Dirajo, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Perempuan-perempuan berpakaian adat Minangkabau duduk berdampingan, saling menyapa dalam dialek kampung halaman yang telah lama mereka rindukan. Sebagian datang dari berbagai kabupaten dan kota di Sumatera Barat, sementara lainnya menempuh perjalanan ribuan kilometer dari Malaysia, Australia, hingga berbagai daerah di Indonesia.
Mereka berkumpul bukan sekadar menghadiri Kongres dan Seminar Bundo Kanduang Sedunia III. Pertemuan itu menjadi ruang untuk kembali merawat akar budaya, mempererat tali persaudaraan, sekaligus meneguhkan peran perempuan Minangkabau sebagai penjaga adat yang diwariskan turun-temurun.
Di balik senyum hangat dan pelukan yang menghapus rindu, tersimpan satu tekad yang sama: memastikan nilai-nilai Minangkabau tetap hidup, meski zaman terus berubah.
Bagi masyarakat Minangkabau, Bundo Kanduang bukan sekadar sebutan bagi seorang ibu atau perempuan yang telah berkeluarga. Ia merupakan simbol perempuan ideal yang dihormati karena kebijaksanaan, keteladanan, serta kemampuannya menjaga kehormatan kaum.
Dalam sistem kekerabatan Minangkabau yang menganut garis keturunan ibu atau matrilineal, perempuan menempati posisi yang sangat istimewa. Rumah gadang, tanah pusaka, hingga silsilah keluarga diwariskan melalui garis ibu. Dari tangan merekalah nilai adat, pendidikan keluarga, dan identitas kaum diwariskan kepada generasi berikutnya.
Tak heran jika falsafah adat menyebut perempuan sebagai “Limpapeh Rumah Nan Gadang”, tiang utama yang menopang rumah besar keluarga. Ketika tiang itu kokoh, keluarga akan tetap berdiri teguh menghadapi berbagai perubahan zaman.
Nilai-nilai itulah yang kembali mengemuka dalam Kongres dan Seminar Bundo Kanduang Sedunia III, salah satu rangkaian utama Festival Minangkabau 2026.
Bupati Tanah Datar Eka Putra, saat membuka acara tersebut, mengaku bangga melihat kehadiran para perempuan Minangkabau dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara. Baginya, kehadiran mereka menjadi bukti bahwa sejauh apa pun masyarakat Minang merantau, ikatan batin dengan kampung halaman tak pernah benar-benar terputus.

“Kehadiran Bundo Kanduang dari berbagai daerah di Indonesia hingga Malaysia dan Australia menjadi bukti bahwa sejauh apa pun orang Minang merantau, hati dan jiwanya tetap terpaut dengan kampung halaman,” ujar Eka Putra.
Tradisi merantau memang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Sejak dahulu, kaum laki-laki didorong mencari ilmu dan penghidupan di berbagai daerah bahkan hingga luar negeri. Namun ketika mereka kembali, rumah gadang tetap berdiri, pusaka tetap terpelihara, dan adat tetap hidup karena ada perempuan-perempuan yang setia menjaga kampung.
Di sanalah peran Bundo Kanduang menjadi begitu penting.
Menurut Eka Putra, kedudukan mereka bukan hanya sebagai pewaris sako dan pusako, tetapi juga penjaga nilai adat, agama, sekaligus pengelola ekonomi kaum yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
“Bundo Kanduang memiliki kedudukan sosial yang tinggi sebagai pewaris sako dan pusako, serta penyimpan hasil ekonomi kaum. Peran ini harus terus diperkuat agar menjadi kekuatan utama dalam membentuk karakter dan pendidikan generasi muda,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa kekuatan masyarakat Minangkabau sejak dahulu lahir dari perpaduan adat dan agama yang saling menopang melalui falsafah “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.”
“Ibarat sebuah bangunan yang kokoh karena fondasinya kuat, demikian pula Minangkabau akan tetap kokoh apabila generasinya berpegang teguh pada nilai-nilai agama dan adat,” tuturnya.
Semangat serupa disampaikan Penasihat Bundo Kanduang Tanah Datar, Ny. Lise Eka Putra. Ia mengaku terharu melihat para perempuan Minangkabau dari Malaysia, Australia, hingga berbagai daerah di Indonesia rela datang ke Tanah Datar semata-mata karena kecintaan terhadap tanah leluhur.
Menurutnya, mencintai budaya tidak cukup diwujudkan melalui pakaian adat atau seremoni belaka. Kecintaan itu harus tercermin dalam kepedulian terhadap alam yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat Minangkabau.
Pesan tersebut sejalan dengan tema kongres tahun ini, “Membaca Alam Takambang dalam Memelihara Lingkungan Hidup Berbasis Nilai Kearifan Lokal dalam Konsep Berpikir Ekologis.”
Dalam falsafah Minangkabau dikenal ungkapan “Alam Takambang Jadi Guru.” Alam dipandang bukan sebagai sesuatu yang harus ditaklukkan, melainkan guru yang mengajarkan keseimbangan hidup. Gunung, sungai, sawah, hutan, hingga pergantian musim menjadi sumber pembelajaran tentang kesabaran, tanggung jawab, dan harmoni antara manusia dengan lingkungannya.
Karena itu, menjaga alam bukan sekadar persoalan lingkungan hidup, tetapi juga bagian dari menjalankan amanah adat.
Di sisi lain, Ny. Lise mengingatkan berbagai tantangan yang kini dihadapi generasi muda, mulai dari penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas, hingga berbagai perilaku yang dapat mengikis karakter anak-anak Minangkabau.
Menurutnya, keluarga menjadi benteng pertama, dan perempuan memiliki peran yang sangat strategis dalam membentuk akhlak serta karakter generasi penerus.
Ia berharap seminar yang menjadi bagian dari kongres mampu melahirkan rekomendasi nyata bagi para Bundo Kanduang di berbagai daerah, sekaligus menjadi bekal dalam mendampingi generasi muda, baik di kampung halaman maupun di tanah rantau.
Kongres tersebut juga menjadi momentum penting dengan dikukuhkannya Pengurus Cabang Bundo Kanduang Negara Malaysia oleh Ketua Bundo Kanduang Internasional, Prof. Dr. Hj. Puti Reno Raudha Thaib.
Pengukuhan itu menjadi simbol bahwa budaya Minangkabau tidak berhenti di ranah Sumatera Barat. Ia terus tumbuh bersama masyarakat perantauan, melintasi batas negara, dan hidup melalui perempuan-perempuan yang setia menjaga akar budayanya.
Kongres ini merupakan salah satu rangkaian Festival Minangkabau 2026 yang berlangsung di pelataran Istano Basa Pagaruyung, Kabupaten Tanah Datar, pada 25–27 Juni 2026. Festival yang dibuka Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah tersebut menjadi bagian dari agenda Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026.
Melalui festival ini, Pemerintah Kabupaten Tanah Datar berharap budaya Minangkabau tidak hanya tetap lestari sebagai warisan leluhur, tetapi juga mampu menjadi penggerak sektor pariwisata, ekonomi kreatif, dan pemberdayaan masyarakat.
Di tengah derasnya arus globalisasi, peran Bundo Kanduang justru semakin menemukan maknanya. Mereka bukan sekadar penjaga rumah gadang atau pewaris pusaka, melainkan penjaga memori kolektif sebuah peradaban yang mengajarkan keseimbangan antara adat, agama, keluarga, pendidikan, dan alam.
Sebab selama masih ada perempuan-perempuan yang menuturkan petuah kepada anak dan cucunya, menjaga pusaka kaum, merawat rumah gadang, serta menghidupkan falsafah “Alam Takambang Jadi Guru,” selama itu pula jati diri Minangkabau akan tetap bertahan—baik di ranah maupun di rantau, melintasi batas negara dan diteruskan dari generasi ke generasi.--(murni yenti)








