Kisah Pilu Ema Saminah Rawat Suami Stroke, 15 Tahun Tinggal di Gubuk Bersama Kambing

Kisah Pilu Ema Saminah Rawat Suami Stroke, 15 Tahun Tinggal di Gubuk Bersama Kambing
Ema Saminah, warga Cikulur Lebak, yang tinggal di gubuk reyot bersama suaminya yang menderita stroke.--(foto: hendrik/bg)

Lebak, BantenGate.id – Angin yang berhembus kencang selalu membuat hati Ema Saminah (51 tahun) berdebar. Bukan karena takut dingin, melainkan khawatir gubuk reyot berukuran sekitar 2×2 meter yang ia tempati bersama suaminya kembali roboh seperti rumah lamanya yang terjadi sekitar 15 tahun  silam, akibat material bangunan yang sudah rapuh.

Sejak saat itu, warga Kampung Cikulur, Desa Muncangkopong, Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten,  ini bertahan hidup di sebuah rumah panggung sederhana yang tidak layak huni.

Gubuk panggung  yang ditempati  Ema Saminah  berdinding bilik dengan lantai bambu (bale-bale)  yang mulai lapuk. Di bagian atas,  dijadikan untuk tempat tidur Ema Saminah  bersama suaminya, Kapi (60), yang sudah sekitar 10 tahun menderita stroke dan tak lagi mampu beraktivitas normal. Di bawahnya (bagian kolong), ditempati kambing-kambing milik orang lain dititipkan untuk dirawat.

“enya, di kolong aya embe (Iya, di kolong ada kambing),” ujar Saminah, Minggu (19/4/2026).

Gubuk panggung itu bukan hanya tempat berteduh, tetapi juga satu-satunya pilihan yang tersisa setelah rumah lamanya runtuh. Setiap kali hujan turun, air sering merembes dari celah-celah bambu. Saat angin bertiup, gubuk kecil itu bergoyang, membuat Saminah hanya bisa berharap bangunan rapuh tersebut tetap bertahan.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Saminah bekerja serabutan. Upah yang ia dapatkan tidak menentu, rata-rata sekitar Rp 25 ribu – Rp 30 ribu per hari. Uang itu harus cukup untuk makan, kebutuhan rumah tangga, hingga merawat suaminya.

Ia mengaku, beberapa tahun lalu  pernah menerima bantuan pemerintah. Namun kini bantuan tersebut tidak lagi diterima karena datanya disebut terblokir. Kondisi ini membuat beban hidupnya semakin berat.

“Dulu ada, sekarang sudah enggak. Katanya datanya diblokir,” ungkap Saminah.

Di tengah keterbatasan, Saminah tetap berusaha tegar. Ia harus merawat suaminya yang masih sakit, meski sudah beberapa kali diobati. Harapan untuk sembuh belum juga diterima.

“Sudah diobatin, tapi enggak sembuh-sembuh,” katanya lirih.

Saminah memiliki tiga orang anak. Dua di antaranya masih menempuh pendidikan di pesantren, sementara satu anak lainnya bekerja di Jakarta. Biaya pendidikan anak-anak yang menimba ilmu agama ditanggung pengasuh  pondok pesantren.

Yuyu (32 tahun),  mengaku prihatin melihat kondisi tersebut. Menurutnya, keluarga itu sudah lama hidup dalam keterbatasan dan membutuhkan perhatian serius.

“Sudah enggak dapat perhatian dari pemerintah. Semoga bisa segera ada bantuan lagi,” ujarnya.

Warga sekitar hanya mampu membantu sebisanya. Jika ada rezeki lebih, mereka berbagi. Jika tidak, mereka hanya bisa saling menguatkan.

“Kalau ada rezeki uang atau makanan  kami para tetangga suka  membantu. Tapi, kalau lagi enggak punya, ya hanya berucap kasihan. Maklum kami  sama-sama susah ekonomi,” kata Yuyu.

Kisah Saminah menjadi potret nyata, bahwa masih adanya warga di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, yang hidup dalam kondisi sangat memprihatinkan. Di gubuk kecil itu, Saminah tetap bertahan. Di atas lantai bambu yang rapuh, di bawah atap sederhana, ia merawat harapan—bahwa suatu hari akan ada tempat tinggal yang lebih layak untuk dirinya dan suami yang setia ia jaga.

Warga berharap, kiranya Bupati Lebak  Hasbi Jayabaya dan Gubeernur Banten, Andra Soni, dapat memberikan perhatian, baik melalui bantuan rumah tidak layak huni, bantuan sosial, maupun layanan kesehatan bagi keluarga Saminah.–(hendrik/bg)

Pos terkait