Nganjang ka Poé Pagéto: Waskita dan Sedurung Winarah dalam Isarat Leluhur Sunda

Nganjang ka Poé Pagéto: Waskita dan Sedurung Winarah dalam Isarat Leluhur Sunda
Edi Murpik

Oleh: Edi Murpik 

Di tanah Pasundan, masa depan bukan sekadar sesuatu yang ditunggu—ia kerap “didatangi” lewat  perenungan. Leluhur Sunda mengenal sebuah ungkapan yang sarat makna: waskita, sedurung winarah, nganjang ka poé pagéto—sebuah laku batin untuk “bertamu ke hari esok”.

Cara pandang para leluhur itu bukan sekadar puitik, melainkan sebuah filsafat hidup yang diwariskan turun-temurun; mengajarkan manusia untuk membaca tanda-tanda zaman, memahami perubahan, dan menyiapkan diri menghadapi masa depan.

Dalam khazanah Sunda, waskita bukanlah kemampuan magis dalam pengertian sempit. Ia adalah kejernihan rasa, ketajaman batin, dan kemampuan membaca arah perubahan melalui tanda-tanda kecil yang sering luput dari perhatian orang kebanyakan.

Sedangkan sedurung winarah dimaknai sebagai kemampuan mengetahui sesuatu sebelum benar-benar terjadi—bukan untuk mendahului takdir, melainkan kesiapan batin dalam menangkap gejala yang belum kasat mata.

Dua konsep itu berpadu dalam satu laku: nganjang ka poé pagéto—bertamu ke masa depan melalui kebijaksanaan hari ini.

Saat masih duduk di bangku sekolah dasar, sekitar usia tujuh atau delapan tahun, suatu malam saya duduk berdua bersama kakek di beranda rumah tua kami di kampung. Malam mulai turun. Udara alam pedesaan terasa dingin. Lampu cempor di sudut rumah memantulkan cahaya temaram. Kakek duduk tenang, jemarinya memainkan ujung lintingan serutu, sesekali mengepulkan asap ke udara.

Tiba-tiba ia berkata dalam bahasa Sunda.  Kalimatnya hingga hari ini masih terpatri kuat dalam ingatan saya: “Engké mah ceng, mun indit ka  Mekah cukup ti Ujung Kulon…” (Nanti nak, kalau pergi ke  Mekah cukup dari Ujung Kulon). Saya terdiam.!

Sebagai anak-anak, saya tidak memahami apa maksudnya. Dalam bayangan saya kala itu, Mekah adalah tempat yang sangat jauh—orang pergi ke sana naik kapal terbang, untuk menunaikan ibadah haji. Bagaimana mungkin cukup dari Ujung Kulon?

Saya ingin bertanya, tetapi takut dimarahi. Karena setiap kakek cerita tentang laku lampah para leluhur,  dan saya bertanya tentang makna atau arti yang sebenarnya,  pasti ia  menjawab; “ngke oge bakal kapanggih, bakal kabuktian, bakal kaalaman.“  (Nanti juga akan ketemu, akan terbukti dan akan mengalami ).

Maka saya hanya menjawab pelan:“Muhun, Aki…” (Iya, Kek). Percakapan itu selesai. Tetapi kalimat itu tidak pernah selesai di kepala saya.

Pada kesempatan lain, nenek juga pernah bercerita tentang Ranca Apel, sebuah kawasan tidak jauh dari pantai Bagedur di selatan Lebak. Saat itu kawasan tersebut masih sepi—hamparan pasir panjang, angin laut, dan debur ombak.

Nenek berkata, “Engké di dieu bakal jadi tempat apel.” Apel, dalam bahasa sehari-hari kami, berarti tempat orang berkumpul. Saya  hanya mengangguk, saat mendengarkan cerita nenek.  Dan dalam hati, saya bergumam; siapa yang  mau berkumpul di tempat sesepi itu?

Namun waktu berjalan. Kini, setiap akhir pekan, Ranca Apel menjadi ruang ramai. Wisatawan berdatangan. Orang-orang berkumpul. Bahkan sebagian masyarakat percaya, kelak kawasan itu akan berkembang lebih besar, termasuk kemungkinan menjadi kawasan strategis pertahanan. Lagi-lagi, ucapan orang tua dulu terasa seperti isyarat yang baru saya pahami puluhan tahun kemudian.

Ketika Ujung Kulon Menjadi Dekat

Enam puluh tahun berselang, saya mulai memahami maksud perkataan kakek. Hari ini, pembangunan Jalan Tol Serang–Panimbang terus bergerak mendekat ke selatan Banten. Wilayah yang dulu terasa jauh dan terisolasi kini perlahan tersambung. Pada saat yang sama, mulai dibicarakan pembangunan lapangan terbang di kawasan Tanjung Lesung, dekat Taman Nasional Ujung Kulon—yang disebut-sebut akan bernama Bandara Tajimalela.

Mendadak saya teringat ucapan kakek. Bukankah itu yang ia maksud?..Bahwa suatu hari nanti, perjalanan ke dunia luar—bahkan sejauh Mekah—akan terasa lebih dekat dari Ujung Kulon.

Kakek bukan insinyur. Ia tak pernah membaca dokumen pembangunan. Tapi, ia sudah pergi ke Mekah, menunaikan ibadah haji pada tahun 1939 naik kapal laut dari Tanjung Priuk, Jakarta.  Tetapi bagaimana ia bisa “melihat” semua itu jauh sebelum waktunya? Di situlah saya mulai memahami ajaran nganjang ka poé pagéto.

Membaca Zaman Lewat Simbol

Pendiri Padepokan Badai Sagara Garut, Aa Hayat Sahida, mengatakan pepatah-pepatah Sunda seperti nganjang ka poé pagéto sejatinya bersifat simbolik.

Ungkapan seperti gunung diratakan dan laut dilangkahi manusia hari ini terasa nyata di era modernisasi dan teknologi. Dulu terdengar seperti dongeng, sekarang kita melihat jalan tol membelah bukit, jembatan melintasi laut, dan pesawat melampaui samudra,” ujar Aa Hayat dalam obrolan santai, Sabtu (9/5/2026).

Bagi leluhur Sunda, kata Aa, ramalan bukan kepastian mutlak. Ramalan itu adalah isyarat. Pengingat agar manusia tetap selaras dengan alam, menjaga keseimbangan, dan tidak terjebak dalam keserakahan.

Dalam konteks  nganjang ka poé pagéto bukan praktik mistik yang mengawang. Ia adalah refleksi mendalam: Jika hari ini manusia menanam kerusakan, maka masa depan adalah panen dari kehancuran.  Sebaliknya, jika hari ini dijaga dengan kebijaksanaan, maka hari esok akan menjadi ruang hidup yang harmonis.

Bagi masyarakat adat Sunda, alam bukan benda mati. Gunung adalah guru. Hutan adalah kitab. Sungai adalah pengingat. Karena itu, masyarakat adat sangat peka terhadap perubahan. Ketika hutan mulai rusak, mereka tahu bencana akan datang. Ketika air mulai sulit ditemukan, mereka tahu ada ketidakseimbangan. Ketika manusia mulai lupa akar budayanya, mereka tahu kegelisahan akan muncul. Hari ini kita menyebutnya krisis lingkungan, perubahan iklim, hingga degradasi moral.

Jangan Kehilangan Rasa

Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh ketidakpastian, ajaran ini terasa semakin relevan. Hari ini manusia sibuk memprediksi masa depan dengan data. Dengan algoritma. Dengan kecerdasan buatan. Dengan grafik dan angka. Namun leluhur Sunda telah lebih dulu mengajarkan satu hal yang kini mulai langka: rasa.

Rasa untuk membaca zaman. Rasa untuk memahami perubahan. Rasa untuk menangkap gejala sebelum menjadi bencana. Waskita mengajarkan kepekaan. Sedurung winarah mengajarkan kesiapsiagaan. Dan nganjang ka poé pagéto mengajarkan tanggung jawab—bahwa masa depan dibentuk oleh keputusan hari ini.

Kearifan lokal seperti ini bukan sekadar warisan budaya. Ia adalah kompas moral. Penunjuk arah ketika manusia modern mulai kehilangan orientasi. Barangkali yang terpenting dari semua ini bukanlah apakah ramalan leluhur itu benar-benar terjadi. Melainkan bagaimana manusia belajar menjadi lebih bijak. Lebih sadar. Lebih bertanggung jawab. Sebab sejatinya, masa depan bukan sesuatu yang jauh. Ia sedang dibentuk—hari ini, saat ini—oleh setiap langkah yang kita ambil. Dan mungkin, tanpa kita sadari, kita semua sedang berjalan menuju hari esok. Sedang bertamu ke masa depan. Sedang… nganjang ka poé pagéto.—-(***)

*).Penulis, Pengurus Paguyuban Pasundan di Banten

Pos terkait