Oleh Sudirman Indra
Sudirman Indra menyoroti intervensi politik dalam pengisian jabatan strategis pemerintahan yang dinilai dapat mengancam profesionalisme dan melemahkan penerapan sistem merit. Menurutnya, kompetensi, prestasi, dan integritas seharusnya menjadi pertimbangan utama dalam menentukan jenjang karier.
Pandangan itu disampaikan Sudirman Indra, penemu Bank Air, yang menyoroti praktik intervensi politik dalam pengembangan karier aparatur sipil negara (ASN), akademisi, peneliti, hingga kalangan ilmuwan.
Menurut Sudirman, sistem merit seharusnya menjadi landasan utama dalam proses promosi dan pengisian jabatan. Melalui sistem tersebut, seseorang memperoleh kesempatan berdasarkan kemampuan, pengalaman, prestasi, serta integritas, bukan karena kedekatan dengan lingkaran kekuasaan.
Ia menilai, ketika kepentingan politik lebih dominan dalam menentukan posisi strategis, orang-orang yang memiliki kompetensi dan rekam jejak profesional justru berisiko tersisih.
Padahal, jabatan publik bukanlah hadiah politik. Posisi tersebut merupakan amanah yang harus diberikan kepada individu yang memiliki kapasitas dan kemampuan untuk menjalankan tanggung jawab.
Sudirman juga mengingatkan bahwa persoalan tersebut tidak hanya berdampak terhadap karier individu, tetapi berpotensi memengaruhi kualitas tata kelola pemerintahan dan pelayanan publik.
Profesionalisme dan Masa Depan Generasi Muda
Dampak lain yang menjadi perhatiannya adalah kemungkinan munculnya sikap apatis di kalangan akademisi, peneliti, dan generasi muda yang sedang membangun karier profesional.
Kerja keras melalui pendidikan, penelitian, inovasi, dan publikasi ilmiah dapat kehilangan motivasi apabila prestasi tidak lagi menjadi dasar dalam memperoleh kesempatan.
Sudirman mempertanyakan bagaimana generasi muda dapat terus terdorong untuk belajar dan menghasilkan inovasi apabila kesempatan berkarier justru lebih banyak ditentukan oleh kedekatan politik.
Menurutnya, situasi semacam itu berpotensi melahirkan budaya pragmatisme dan oportunisme. Generasi muda bisa kehilangan kepercayaan terhadap sistem profesionalisme karena merasa kemampuan dan prestasi tidak menjamin kesempatan yang adil.
Jika kondisi tersebut terus berlangsung, negara berisiko kehilangan sumber daya manusia berkualitas serta generasi yang memiliki semangat membangun melalui ilmu pengetahuan dan inovasi.
Jabatan Strategis Harus Mengutamakan Kompetensi
Sudirman menilai penempatan pejabat pada posisi strategis, termasuk sektor keamanan, pertahanan, dan tata kelola negara, harus mempertimbangkan kompetensi, rekam jejak, integritas, serta ketentuan peraturan perundang-undangan.
Kepentingan politik yang terlalu dominan dalam pengambilan keputusan dapat menimbulkan persoalan apabila mengesampingkan profesionalisme dan mekanisme pengawasan.
Ia juga menekankan bahwa nasionalisme tidak cukup diwujudkan melalui pidato, slogan, ataupun simbol kebangsaan. Kecintaan terhadap tanah air perlu tercermin dalam keadilan, integritas, tanggung jawab, serta keberanian menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
Pemerintahan yang kuat, menurutnya, harus dibangun melalui sistem yang memberikan ruang bagi orang-orang terbaik untuk mengabdi berdasarkan kemampuan dan keahliannya.
Sistem Merit Perlu Dijalankan Secara Konsisten
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Sudirman mendorong penerapan sistem merit secara konsisten. Proses promosi, mutasi, dan pengisian jabatan harus dilakukan secara transparan, objektif, serta dapat dipertanggungjawabkan.
Selain itu, independensi akademisi, peneliti, dan ilmuwan perlu mendapatkan perlindungan agar mereka dapat bekerja dan berkarya tanpa tekanan kepentingan politik.
Ia mengingatkan agar negara tidak berubah menjadi panggung sandiwara, ketika orang-orang yang memiliki kemampuan hanya menjadi penonton, sementara jabatan dan kesempatan justru diperebutkan melalui kekuatan politik.
Menurut Sudirman, negara membutuhkan sumber daya manusia yang mampu bekerja, berpikir, berinovasi, dan mengabdi. Sebab, ketika ilmu pengetahuan dikalahkan oleh kepentingan politik dan profesionalisme dikorbankan demi loyalitas, dampaknya bukan hanya terhadap masa depan karier seseorang, melainkan juga masa depan bangsa.
*). Penulis Pemerhati sosial, lahir dan dibesarkan di Kalimantan Barat








