Lebak, BantenGate.id — Langkah-langkah kaki yang dulu menyusuri jalan tanah di pedalaman Baduy, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, masih tersimpan jelas dalam ingatan Jet Bakels. Akademisi dari University of Leiden, Belanda itu pertama kali datang ke Baduy pada 1983–1984. Saat itu kehidupan masyarakat adat Baduy nyaris tak tersentuh arus luar. Empat dekade kemudian, ia kembali — dan menemukan lanskap sosial yang perlahan berubah.
Dalam wawancara di sela acara Seba Baduy, Jumat (24/4/2026), Bakels menggambarkan perasaannya seperti melihat waktu yang bergerak lebih cepat dari yang ia bayangkan. Ia menyebut, perubahan bukan hanya terlihat dari meningkatnya kunjungan wisatawan, tetapi juga dari dinamika modernisasi yang mulai terasa di sekitar wilayah adat Baduy.
Dulu, katanya, perjalanan menuju Baduy adalah perjalanan menuju kesunyian. Hutan masih rapat, jalur setapak lengang, dan kehidupan masyarakat berjalan mengikuti irama alam. Kini, langkah-langkah pengunjung semakin ramai. Kamera, telepon genggam, hingga percakapan tentang media sosial menjadi pemandangan yang tak lagi asing di pinggiran wilayah adat.
“Saya datang ke sini sejak tahun 1983 dan 1984 untuk melakukan penelitian. Sekarang saya melihat banyak perubahan. Saya khawatir dengan masyarakat adat Baduy di era modern, karena semakin banyak turis dan juga dampak lingkungan seperti polusi yang dapat memengaruhi kehidupan mereka,” ujarnya.

Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Masyarakat Baduy dikenal menjaga kesederhanaan hidup: berjalan kaki tanpa alas, menolak kendaraan bermotor, dan memegang teguh aturan adat yang mengatur relasi manusia dengan alam. Dalam sistem nilai kehidupan masyarakat Baduy, keseimbangan bukan sekadar konsep, melainkan cara hidup. Ketika jumlah pengunjung meningkat, keseimbangan itu berpotensi terganggu—baik oleh sampah, perubahan perilaku, maupun tekanan ekonomi.
Bakels menilai, masyarakat adat seperti Baduy memiliki hak untuk menentukan masa depan mereka sendiri. Modernisasi, menurutnya, tidak boleh menjadi arus yang “memaksa”, melainkan pilihan yang disadari dan dikendalikan oleh masyarakat adat.
“Harapannya, masyarakat Baduy dapat memilih sendiri bagaimana mereka ingin menjalani kehidupan mereka,” kata Bakels.
Ucapan yang terasa seperti pesan itu, ditujukan bukan hanya kepada pemerintah, tetapi juga kepada wisatawan dan masyarakat luas. Bahwa kunjungan ke Baduy bukan sekadar perjalanan wisata, melainkan perjumpaan dengan tradisi yang hidup. Setiap langkah yang diambil, setiap foto yang diambil, hingga setiap barang yang dibawa masuk, memiliki dampak bagi keberlangsungan budaya yang telah bertahan ratusan tahun.
Di tengah perubahan zaman, masyarakat Baduy masih berjalan dengan ritme yang sama—menyusuri hutan, menanam padi huma, dan menjaga amanat leluhur. Namun di luar batas adat, dunia terus bergerak. Dan di antara dua arus itu, muncul pertanyaan penting: bagaimana menjaga agar modernitas tidak menghapus kearifan?
Pernyataan Bakels menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya bukan hanya soal menjaga tradisi, tetapi juga memastikan masyarakat adat tetap memiliki ruang, suara, dan kendali atas kehidupan mereka sendiri. Di sanalah masa depan Baduy akan ditentukan—bukan oleh dunia luar, melainkan oleh pilihan mereka sendiri.--(hendrik)








