Lebak, BantenGate.id – Tradisi Seba Baduy kembali digelar dengan khidmat di Pendopo Kabupaten Lebak, Banten, pada Jumat (24/4/2026) malam. Rangkaian acara adat dipusatkan di seputar Alun-alun Rangkasbitung, yang berlangsung selama empat hari, (23-26 April 2026) menghadirkan perpaduan nilai adat, budaya, serta kebersamaan antara masyarakat adat Baduy dan pemerintah daerah.
Sejak Kamis (23/4/2026), persiapan acara mulai di gelar dan masyarakat memadati area kegiatan. Selain prosesi adat, juga digelar bazar UMKM yang menampilkan berbagai produk khas Lebak, mulai dari kain tenun Baduy, madu hutan, obat-obatan tradisional, hingga kuliner lokal. Kehadiran stand-stand tersebut menambah semarak perhelatan sekaligus memperkenalkan kearifan lokal masyarakat Baduy kepada publik.
Rombongan masyarakat Baduy berjalan kaki dari wilayah adat menuju pusat pemerintahan sebagai bentuk rasa syukur atas hasil bumi sekaligus mempererat silaturahmi. Mereka membawa berbagai hasil bumi seperti pisang, gula aren, talas, jaat, dan laksa sebagai simbol keseimbangan hidup dengan alam.
Jaro Tanggungan ke-12, Jaro Saija, sebagai perwakilan adat menyampaikan amanah karuhun sekaligus menyerahkan hasil bumi sebagai bagian dari prosesi utama. Dalam momen tersebut, Jaro Saija secara simbolis menyerahkan Kue laksa kepada bapak gede (Bupati Lebak), Mochamad Hasbi Asyidiki Jayabaya.

Dalam rangkaian pamulang Seba, Pemerintah Kabupaten Lebak juga menyerahkan bingkisan kepada masyarakat Baduy sebagai simbol kebersamaan.
“Masrahkeun ka dedeuh dina pamulang Seba, bingkisan ti Kabupaten Lebak ka dulur-dulur ti Baduy,” menjadi penanda hubungan harmonis antara pemerintah dan masyarakat adat.
Dalam amanahnya, Jaro Saija menegaskan pentingnya menjaga adat dan tidak menyimpang dari pikukuh karuhun.
“Di ayana kaharep, tong aya hal-hal anu nyimpang tina adat jeung pikukuh karuhun,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga air sebagai sumber kehidupan.
“Cai téh kahirupan. Eta teu meunang digolohan, teu meunang dikotoran. Saha jalema nu teu ngabutuhkeun cai bersih,” tegasnya.
Selain itu, ia menitipkan pesan agar pengelolaan lingkungan, khususnya limbah, dijaga dengan baik.
“Urang nitip, limbah-limbah ulah dibuang ka walungan sembarangan. Masing-masing kudu dipiara supaya jadi cai bersih deui,” lanjutnya.
Bupati Lebak Mochamad Hasbi Asyidiki Jayabaya menegaskan bahwa Seba Baduy bukan sekadar seremoni, melainkan warisan nilai kehidupan yang harus dijaga bersama.
“Warisan leluhur ini bukan hanya budaya, tetapi juga nilai kehidupan. Selain alam yang dititipkan oleh Tuhan, kita juga harus menjaganya sebagai inspirasi untuk masa kini dan masa depan,” ujarnya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Bupati Lebak Amir Hamzah, unsur Forkopimda, kepala OPD, tokoh masyarakat, serta masyarakat Baduy dalam dan luar. Acara kemudian ditutup dengan pertunjukan seni tradisional wayang golek yang menghibur warga dan tamu undangan.-
Sejak Kamis (23/4/2026), persiapan acara Seba Baduy mulai di gelar dan masyarakat memadati area kegiatan. Selain prosesi adat, juga digelar bazar UMKM yang menampilkan berbagai produk khas Lebak, mulai dari kain tenun Baduy, madu hutan, obat-obatan tradisional, hingga kuliner lokal. Kehadiran stand-stand tersebut menambah semarak perhelatan sekaligus memperkenalkan kearifan lokal masyarakat Baduy kepada publik.–(tim bg)








