Menelusuri Jejak Adipati Ukur Raden Sumadikara di Gunung Tilu Ujung Kulon

Menelusuri Jejak Adipati Ukur Raden Sumadikara di Gunung Tilu Ujung Kulon
Saat berada di Makam Raden Adipati Ukur SUmadikara, Gunung Tilu, Ujungkulon.--(Foto: dok/BG)
Oleh: Abah Kasep

(Pengurus Paguyuban Pasundan di Banten)

Di balik tumbuh dan berkembangnya Malingping, Bayah, Binuangeun, Cikeusik, hingga Cibaliung, tersimpan kisah perjalanan para leluhur dari tanah Priangan. Salah satu nama yang terus hidup dalam ingatan keluarga dan masyarakat adalah Adipati Ukur Raden Sumadikara, sosok yang dikenal dengan sebutan Uyut Ukur.

Sejarah suatu daerah tidak selalu tersimpan dalam prasasti, naskah kerajaan, atau dokumen pemerintahan. Sebagian lainnya justru hidup dalam ingatan masyarakat, diwariskan melalui cerita keluarga, kemudian dijaga dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Begitulah kisah tentang  Adipati Ukur Raden Sumadikara, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Uyut Ukur. Namanya menjadi bagian dari cerita leluhur di kawasan Banten Kidul, khususnya wilayah selatan Kabupaten Lebak dan Pandeglang.

Dalam tradisi lisan keluarga, Uyut Ukur dipercaya berasal dari lingkungan bangsawan Sumedang. Perjalanan hidupnya dikaitkan dengan pergolakan politik di tanah Priangan, perpindahan para tokoh Sunda, hingga terbentuknya sejumlah komunitas masyarakat di kawasan Banten Selatan.

Dari garis keturunan yang dipercaya berasal darinya, muncul nama Raden Mina, Uyut Bateng, Uyut Unjalah atau Uyut Jalah, Uyut Ujid atau Ki Ujid, serta sejumlah tokoh lain yang kemudian dikaitkan dengan perkembangan Malingping, Bayah, Binuangeun, Cikeusik, dan Cibaliung.

Cerita tersebut antara lain diwariskan oleh almarhum H. Bisrun, seorang tokoh masyarakat Malingping yang semasa hidupnya dikenal memiliki pengetahuan mengenai sejarah lokal dan silsilah keluarga.

Dalam sejumlah perbincangan dengan saya pada dekade 1980-an hingga beberapa tahun sebelum meninggal dunia, H. Bisrun secara konsisten menceritakan asal-usul keluarganya yang dihubungkan dengan Raden Adipati Ukur Sumadikara.

Pergolakan Priangan dan Nama Dipati Ukur

Untuk memahami latar belakang cerita Uyut Ukur, kita perlu menengok situasi politik tanah Sunda pada abad ke-16 hingga awal abad ke-17.

Setelah Kerajaan Sunda di Pakuan Pajajaran mengalami keruntuhan pada 1579, Sumedang Larang berkembang menjadi salah satu pusat kekuasaan penting di wilayah Priangan. Pada masa berikutnya, pengaruh Kesultanan Mataram di bawah Sultan Agung semakin meluas ke wilayah Jawa Barat.

Pada 1620, Raden Aria Suriadiwangsa, penguasa Sumedang Larang, menyatakan kesetiaan kepada Mataram. Peristiwa tersebut menjadi salah satu penanda perubahan peta kekuasaan di wilayah Priangan.

Dalam perkembangan politik berikutnya, muncul nama Dipati Ukur, tokoh yang dikenal memiliki pengaruh di kawasan Tatar Ukur dan pernah memimpin wilayah Priangan sebagai Bupati Wedana.

Pada 1628, Sultan Agung menugaskan Dipati Ukur bersama pasukan Sunda untuk membantu ekspedisi militer Mataram menyerang VOC di Batavia. Namun, serangan tersebut tidak berhasil mencapai tujuan.

Setelah kegagalan ekspedisi, Dipati Ukur tidak kembali menghadap Mataram sebagaimana diperintahkan. Peristiwa itu kemudian berkembang menjadi konflik politik dan perlawanan terhadap kekuasaan Mataram.

Kisah pelarian, perlawanan, hingga akhir hidup Dipati Ukur memiliki beberapa versi dalam naskah dan tradisi sejarah Sunda. Sejumlah catatan menyebutkan bahwa kelompok pengikutnya pernah mencari perlindungan ke wilayah Banten dan Batavia.

Pergolakan tersebut memperlihatkan betapa rumitnya situasi politik tanah Sunda pada masa itu. Persaingan kekuasaan tidak hanya melibatkan Mataram dan VOC, tetapi juga para penguasa lokal yang memiliki kepentingan dan pilihan politik masing-masing.

Apakah Dipati Ukur Wangsanata yang dikenal dalam historiografi Priangan merupakan tokoh yang sama dengan Raden Adipati Ukur Sumadikara dalam cerita keluarga H. Bisrun?

Dari Priangan Menuju Gununganten

Dalam penuturan H. Bisrun, perjalanan Uyut Ukur memiliki kisah tersendiri.

Setelah mengalami tekanan dalam pergolakan politik di tanah Priangan, Uyut Ukur dikisahkan bergerak menuju kawasan yang disebut Timbanganten. Dalam cerita keluarga, nama tersebut kemudian dihubungkan dengan Gununganten, Kecamatan Cimarga, Kabupaten Lebak.

Di kawasan itu, ia disebut berhubungan dengan sejumlah tokoh yang berasal dari lingkungan perjuangan dan keluarga bangsawan Sunda, di antaranya Pangeran Dalem Buku, Raden Jayasakti, serta Raden Bantar Kondang.

Bisrun juga menuturkan bahwa Uyut Ukur pernah menikah dengan Nyai Mas Marwati, adik kandung Raden Bantar Kondang. Dari perkawinan tersebut, menurut cerita keluarga, lahir keturunan yang kemudian menetap dan berkembang di Desa Gununganten.

Beberapa nama yang disebut dalam penuturan itu antara lain Jaro Pawitan, Jaro Taba, dan Jaro Hamim. Mereka dikaitkan dengan kepemimpinan masyarakat setempat pada masa berikutnya. Jaro Pawitan, semasa hidupnya di Gununganten dikenal sebagai tokoh agama dan pernah menjabat sebagai kepala desa. Jaro  Haji Pawitan,  menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Mekkah Al Mukaromah pada tahun 1916.

Kisah tersebut menjadi bagian dari ingatan keluarga mengenai perjalanan Uyut Ukur setelah meninggalkan tanah Priangan.

Meski demikian, hubungan antara Timbanganten dan Gununganten sebagai satu rangkaian perjalanan sejarah masih perlu ditelusuri. Timbanganten juga dikenal dalam sejarah sebagai nama kerajaan di kawasan Garut, yang berkaitan dengan wilayah Tarogong dan Samarang.

Cerita mengenai Uyut Ukur ternyata tidak hanya diwariskan melalui H. Bisrun.

Tokoh lain yang menceritakan penuturan tentang Uyut Ukur adalah Raden Dewi Asyiah, yang akrab disapa Ibu Haji Tulis atau Ibu Tulis, cucu Raden Mina. Ibu Tulis adalah anak dari perkawinan antara Raden Nursibah dengan KH. Abdulah, seorang Penghulu dari wilayah Kewedanaan Wanaraja, Garut.

Ibu Tulis semasa hidupnya menikah dengan Entol Sohib, seorang pegawai Karesidenan Banten dan terakhir menjabat sebagai Wedana Menes, Pandeglang. Dari pernikahan Ibu Tulis dengan Entol Sohib, mempunyai anak; Entol Ures, Entol Mikros, Entol Ujang Rasas, Ratu Suhartati Al Purbaliah,  Entol Mundjiat, dan Basas Hendarsen.

Dari ke-enam anak tersebut; Entol Ures semasa hidupnya pernah menjadi Kepala Jawatan Penerangan Lebak. Entol Mikro Camat Gunungkencana. Entol Ujang Rasas Direktur Muda PT. Berdikari, Pengurus DPP Golkar, dan Ketua SOKSI. Ratu Suhartati Al Purbaliah dibidang pendidikan. Sementara, Basas Hendarsen, salah seorang yang ikut mengembangkan dan pejabat di TVRI.

Saat cerita kepada saya, Ibu Tulis mengaku memiliki hubungan leluhur dengan Raden Adipati Ukur Sumadikara. Ia juga menyebut bahwa leluhurnya berasal dari Sumedang dan pernah memiliki kedudukan dalam pemerintahan di wilayah Priangan.

Julukan Ibu Tulis sendiri melekat karena ia dikenal gemar mengajarkan baca tulis kepada masyarakat di sekitarnya.

Salah satu kisah yang masih diingat dari penuturannya adalah pengalaman ketika Gunung Krakatau meletus pada 1883. Ketika peristiwa besar tersebut terjadi, ia masih anak-anak. Ibu Tulis meninggal dunia pada 1991, dalam usia  103 tahun dan memiliki ratusan cucu dan cicit yang menetap di berbagai kota dan daerah.

Dua penuturan keluarga tersebut setidaknya memperlihatkan bahwa nama Uyut Ukur tidak hanya dikenal dalam satu lingkaran keturunan. Akan tetapi, hubungan genealogis di antara keluarga-keluarga tersebut tetap perlu ditelusuri melalui dokumen silsilah dan sumber pendukung lainnya.

Raden Mina dan Jejak Keluarga di Malingping
Jalan bukit dan pesawahan, menuju makam Uyut Ukur Sumadikara.–(Foto: BG)

Cerita mengenai Uyut Ukur tidak berhenti pada Raden Mina. Perjalanan berikutnya justru memperlihatkan bagaimana keturunannya dipercaya menyebar ke berbagai kawasan di Banten Selatan.

Dalam penuturan H. Bisrun, Raden Mina memiliki lima orang anak, yakni Raden Nursibah, Asisten Rabian, Uyut Unjalah atau Uyut Jalah, Uyut Bateng, dan Uyut Ujid.

Masing-masing memiliki kisah perjalanan dan garis keturunan tersendiri.

Raden Nursibah, menurut Bisrun, menikah dengan KH. Abdullah, seorang penghulu yang berasal dari Wanaraja, Garut.

Sementara itu, Ki Unjalah atau Aki Jalah dikisahkan menetap di kawasan Bayah. Ia dipercaya ikut membuka dan mengembangkan wilayah tersebut.

Jejak Ki Unjalah masih dikenang melalui keberadaan makamnya di Cimancak, Bayah. Bagi keluarga keturunannya, makam tersebut menjadi salah satu penanda perjalanan leluhur dari Malingping menuju kawasan pesisir selatan Lebak. Cucu dan cicit Ki Jalah menyebar di Bayah, menjadi tokoh masyarakat, pengusaha dan politisi.

Nama lainnya adalah Ki Bateng. Dalam cerita keluarga, ia dikenal sebagai sosok jawara yang memiliki kemampuan luar biasa.

Bahkan, berkembang cerita mengenai kesaktiannya, termasuk kemampuannya mengubah wujud serta keberadaan seekor harimau peliharaan yang disebut Ki Belang.

Kisah-kisah tersebut merupakan bagian dari tradisi tutur yang berkembang di lingkungan keluarga. Di luar cerita kesaktiannya, Ki Bateng menempati posisi penting dalam silsilah keturunan Uyut Ukur.

Dari garis keturunannya, H. Bisrun menyebut dirinya sebagai salah seorang cucu dari generasi berikutnya. Keturunan Ki Bateng kemudian dikaitkan dengan sejumlah keluarga yang menetap di Cikeusik, Binuangeun, Cibaliung dan kawasan sekitarnya.

Sementara itu, dari garis Uyut Ujid, keluarga menyebut nama Soepardi, tokoh masyarakat Lebak yang semasa hidupnya pernah berkecimpung dalam dunia pendidikan dan pemerintahan.

Ia disebut pernah menjabat sebagai Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Ketua DPD Partai Golkar, serta Ketua DPRD Kabupaten Lebak, periode 1987-1992.

Salah satu bagian paling menarik dari cerita H. Bisrun adalah perjalanan Raden Mina, putra Uyut Ukur, menuju kawasan Banten Kidul.

Menurut penuturan Bisrun, Uyut Ukur memiliki lima orang anak dari seorang istri yang berasal dari Sumedang. Mereka terdiri atas tiga laki-laki dan dua perempuan.

Empat orang anaknya disebut tetap tinggal di Sumedang, sedangkan salah seorang putranya, Raden Mina, mengikuti perjalanan keluarga menuju wilayah selatan Banten.

Dalam cerita keluarga, Raden Mina dipercaya memiliki peran penting dalam perkembangan kawasan Malingping.

Ia tidak hanya dikisahkan datang untuk menetap, tetapi juga dikaitkan dengan penyediaan tanah bagi kepentingan masyarakat.

Tanah yang menurut cerita keluarga berasal dari hibah Raden Mina itu kemudian digunakan untuk sejumlah fasilitas umum, seperti pendopo atau kantor pemerintahan, alun-alun, masjid, dan pasar Malingping.

Menariknya, kisah tersebut tidak hanya ditemukan dalam penuturan keluarga.

Sebuah penelitian mengenai kondisi dan sejarah Pasar Malingping yang tersimpan di repositori UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten turut mencatat kesaksian H. Bisrun mengenai Raden Mina.

Dalam penelitian tersebut, Bisrun menyebut Mbah Adipati Ukur Sumadikara Jayabaya sebagai tokoh yang memiliki hubungan dengan Sumedang. Ia juga mengisahkan bahwa Raden Mina mendapat tugas mengelola kawasan Banten Kidul yang berpusat di Cilangkahan.

Penelitian itu turut mencatat cerita mengenai tanah yang dihibahkan Raden Mina untuk pembangunan sejumlah fasilitas umum, yaitu pendopo, alun-alun, Masjid Agung Baiturrachim, dan pasar Malingping.

Catatan tersebut menjadi petunjuk penting bahwa cerita H. Bisrun pernah direkam dalam penelitian akademis melalui wawancara pada 2017.

Terlepas dari itu, bagi keluarga keturunannya, Raden Mina bukan sekadar nama dalam silsilah. Ia merupakan sosok yang menghubungkan cerita perjalanan leluhur dari Sumedang dengan perkembangan kehidupan masyarakat Malingping.

Gunung Tilu, Penanda Ingatan tentang Uyut Ukur

Dari sekian banyak tempat yang dikaitkan dengan perjalanan Uyut Ukur, Gunung Tilu di kawasan Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang, memiliki tempat tersendiri dalam ingatan keluarga.

Di kawasan tersebut terdapat sebuah makam yang diyakini sebagai tempat peristirahatan terakhir Raden Adipati Ukur Sumadikara.

Makam itu dikenal oleh sebagian masyarakat dan menjadi tujuan ziarah, terutama bagi mereka yang merasa memiliki hubungan sejarah dan garis keturunan dengan sosok Uyut Ukur.

Mang Pei (60), warga Kampung Sawah, Sompok, merupakan salah seorang yang mengurus makam tersebut.

Saat saya berziarah bersama keturunannya, Afif Ernawan, pensiunan kameramen TV RI dan mantan Sekjen DPP KNPI tahun 1974 ke Makam Uyut Ukur belum lama ini, Mang Pei tengah membangun tempat istirahat para peziarah.

Bagi keluarga keturunannya, makam tersebut bukan sekadar tempat berziarah. Ia menjadi penanda asal-usul, sekaligus ruang untuk mengenang perjalanan panjang seorang leluhur yang dipercaya berasal dari tanah Sumedang.

Keberadaan makam itu juga menyisakan pekerjaan penting bagi penelusuran sejarah. Identitas tokoh yang dimakamkan, riwayat pemakaman, serta hubungan genealogisnya dengan keluarga-keluarga di Banten Selatan perlu didukung penelitian dan dokumentasi yang lebih kuat.

Perjalanan Raden Adipati Ukur Sumadikara, sebagaimana diwariskan dalam cerita keluarga H. Bisrun dan Raden Dewi Asyiah, merupakan bagian menarik dari ingatan sejarah masyarakat Banten Kidul.

Sebab, sejarah bukan hanya tentang siapa yang pernah berkuasa, tetapi juga tentang bagaimana manusia berpindah, membangun kehidupan, meninggalkan jejak, dan mewariskan ingatan kepada generasi berikutnya.—(***)

Wallahu A’lam Bishawab.!

Pos terkait