Pandeglang, BantenGate.id – Di tengah derasnya arus hiburan digital yang akrab dengan kehidupan anak-anak masa kini, Rizqi Wahyu Rohman yang akrab dengan nama panggung Ago, justru memilih jalan berbeda. Siswa kelas VIII E SMP Negeri 3 Pandeglang, Kabupaten Pandeglang, Banten, ini menekuni Dalang Wayang golek, warisan budaya Sunda yang sarat cerita, petuah, dan filosofi kehidupan.
Di panggung pewayangan dan dalang, ia dikenal dengan nama Ago. Meski usianya masih belia, prestasinya patut diperhitungkan. Ia berhasil meraih gelar juara festival dalang tingkat nasional selama empat tahun berturut-turut, sejak 2023 hingga 2026.
Prestasi tersebut bukan sekadar deretan gelar juara. Di baliknya terdapat kecintaan terhadap budaya, proses belajar yang panjang, dukungan keluarga, serta tekad seorang anak untuk menjaga kesenian tradisional agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Bagi Ago, menjadi Dalang Wayang Golek bukan sekadar boneka kayu yang digerakkan oleh tangan seorang dalang. Di dalamnya tersimpan kisah kehidupan manusia, pertarungan antara kebaikan dan keburukan, keberanian menegakkan kebenaran, hingga kebijaksanaan dalam mengambil keputusan.
Berawal dari Kecintaan Sejak Sekolah Dasar
Kecintaan Ago terhadap seni Sunda, khususnya wayang golek, tumbuh sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Ketertarikan itu kemudian berkembang menjadi kesungguhan untuk mempelajari dunia pedalangan.
“Saya senang dengan seni Sunda, khususnya wayang golek, sejak kecil, sejak masih duduk di bangku sekolah dasar,” kata Ago, di Pandeglang, Senin (2/11/2026).
Kecintaannya terhadap dunia pewayangan tidak lepas dari lingkungan keluarga. Ago merupakan putra pasangan Cecep Wardaya dan Teti Novianti. Bakat pedalangan yang dimilikinya juga mendapat pengaruh dari sang ayah, Cecep Wardaya, yang merupakan seorang dalang.
Kedekatan dengan seni pewayangan membuat Ago memiliki kesempatan mengenal tradisi yang bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari kekayaan budaya masyarakat Sunda.
Namun, bakat saja tidak cukup untuk mengantarkan seseorang meraih prestasi. Dibutuhkan latihan, ketekunan, kedisiplinan, dan kemauan untuk terus belajar.
Sebagai siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Pandeglang, Ago, juga harus membagi waktu antara pendidikan formal dan kecintaannya terhadap seni tradisional. Dua hal tersebut dijalaninya secara bersamaan sebagai bagian dari proses tumbuh dan berkembang.
Empat Tahun Berturut-turut Juara Nasional
Prestasi Ago, mendapat apresiasi dari lingkungan sekolah. Guru Seni Budaya SMP Negeri 3 Pandeglang, Ratu Iyah, S.Pd., mengaku bangga atas pencapaian anak didiknya tersebut.
Menurut Ratu Iyah, Ago, merupakan siswa yang rajin dan tekun dalam mengikuti kegiatan belajar di sekolah.
“Prestasi yang diraih selama empat tahun berturut-turut menjadi juara festival dalang tingkat nasional menunjukkan konsistensi Ago dalam menekuni seni pedalangan,”kata Ratu Iyah.
Ratu Iyah mengatakan, seluruh dewan guru, dan Kepala SMP Negeri 3 Pandeglang, Ading Suhendi, memberikan dukungan agar Ago terus mengembangkan potensinya dan diharapkan dapat berjalan seiring dengan pendidikan formalnya.
Menurutnya, menjadi seorang dalang bukan perkara mudah. Dibutuhkan kemampuan bercerita, penghayatan terhadap karakter, penguasaan bahasa, serta kepekaan dalam membangun suasana pertunjukan.
Berguru kepada Dalang AS Hudaya
Dijelaskan Ratu Iyah, untuk memperdalam kemampuannya, Ago, menjalani pembinaan bersama Dalang AS Hudaya dari Lingkung Seni Giri Komala, Bandung.
Bimbingan seorang dalang berpengalaman menjadi bagian penting dalam perjalanan seorang calon dalang. Sebab, seni pedalangan tidak berhenti pada kemampuan menggerakkan wayang atau menirukan suara tokoh.
Di balik sebuah pertunjukan terdapat pengetahuan mengenai cerita, karakter, bahasa, iringan musik, tata pertunjukan, hingga pesan moral yang hendak disampaikan kepada penonton.
Proses berguru juga menjadi bagian dari tradisi pewarisan ilmu dalam dunia seni. Pengetahuan dan pengalaman seorang seniman diteruskan kepada generasi berikutnya agar tidak terputus oleh pergantian zaman.
Bagi Ago, pembinaan tersebut menjadi kesempatan untuk terus mengasah keterampilan sekaligus memperdalam pemahaman terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam wayang golek.
Perjalanan seorang dalang muda memang tidak cukup diukur melalui piala dan penghargaan. Lebih dari itu, ia harus mampu memahami makna cerita, menghargai tradisi, serta menyampaikan pesan kebudayaan kepada masyarakat.
Perlu Dukungan dari Pemerintah Daerah
Prestasi Ago patut menjadi perhatian pemerintah daerah, khususnya dalam upaya melestarikan seni dan budaya Sunda di Kabupaten Pandeglang dan Provinsi Banten.
Anak-anak dengan bakat seni membutuhkan ruang untuk berkembang. Penghargaan atas prestasi memang penting, tetapi dukungan berkelanjutan jauh lebih berarti bagi perjalanan mereka.
Pemerintah daerah dapat memperkuat pembinaan talenta muda melalui sanggar seni, festival pedalangan, pertunjukan budaya di sekolah, program regenerasi seniman, serta fasilitasi bagi pelajar berprestasi untuk mengikuti kompetisi dan kegiatan kebudayaan.
Kolaborasi antara sekolah, keluarga, sanggar seni, komunitas budaya, dan pemerintah juga diperlukan agar pendidikan formal tetap berjalan seiring dengan pengembangan bakat.
Bagi Ago, perhatian tersebut dapat menjadi dorongan untuk terus belajar dan mengembangkan kemampuannya. Sementara bagi masyarakat Pandeglang, keberadaan dalang muda berprestasi menjadi peluang untuk memperkenalkan kembali wayang golek kepada generasi yang lebih luas.
Pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan melalui pertunjukan dalam acara seremonial. Budaya akan tetap hidup apabila ada generasi yang mempelajari, mempraktikkan, memahami maknanya, dan memperoleh kesempatan untuk mewariskannya.
Rizqi Wahyu Rohman atau Ago, menunjukkan bahwa usia muda bukan penghalang untuk berprestasi dalam bidang seni tradisional. Dari bangku SMP, ia telah mencatatkan prestasi dengan menjadi juara festival dalang tingkat nasional selama empat tahun berturut-turut, 2023 hingga 2026.
Perjalanan itu masih panjang. Masih banyak pengetahuan yang perlu dipelajari, keterampilan yang harus diasah, serta panggung yang dapat menjadi tempat memperluas pengalaman.
Sebab, melestarikan budaya bukan hanya tentang mempertahankan bentuk kesenian, melainkan juga menjaga pengetahuan, kebijaksanaan, dan identitas yang diwariskan para pendahulu.—(red)








