Lomar Baduy Motif Tapak Kebo dan  Jejak Perjalanan Pengaruh Budaya Luar

Lomar Baduy, Motif Tapak Kebo, Haring Baduy, Batik Baduy, Tenun Baduy, Budaya Kanekes, Tradisi Baduy, Baduy Luar, Warisan Budaya, Lebak, Banten
(Bagian 2)
Lomar Baduy Motif Tapak Kebo dan  Jejak Perjalanan Pengaruh Budaya Luar
Oleh: Dian Wahyudi
(Wartawn BantenGate.id)

LOMAR BADUY LUAR semakin mudah dikenali melalui motif yang menghiasi permukaannya. Salah satu motif yang populer adalah Tapak Kebo atau Haring. Motif ini memperlihatkan bahwa perkembangan busana masyarakat Baduy Luar juga memiliki perjalanan sejarah yang menarik.

Penelitian berjudul Telusur Sejarah Motif Batik pada Lomar Baduy karya Tety Suparti dan Khoirul Umam, yang diterbitkan dalam jurnal SENDIKRAF pada 2024, mengungkap perjalanan masuknya motif batik ke lingkungan masyarakat Baduy.

Penelitian tersebut menemukan bahwa batik mulai beredar di Baduy sekitar dekade 1960-an. Salah satu pelopor yang disebut dalam penelitian itu adalah Ayah Nasirah, yang memesan kain batik dari perajin di Karet, Jakarta.

Penelitian tersebut juga mencatat bahwa dalam dokumentasi sekitar 1950–1960-an, motif hariang atau Tapak Kebo mulai terlihat pada ikat kepala yang dikenakan sebagian orang Baduy, meskipun penggunaannya belum seragam seperti sekarang.

Temuan menarik lainnya adalah masyarakat Baduy bukan produsen batik dalam konteks motif yang digunakan pada lomar tersebut. Kain batiknya dipesan dari produsen di luar wilayah adat, termasuk dari Pekalongan.

Artinya, kain batik yang kemudian menjadi ciri khas penampilan Baduy Luar memiliki hubungan dengan aktivitas produksi perajin dari luar komunitas adat.

Hal ini menjadi gambaran menarik tentang bagaimana sebuah kebudayaan dapat menerima unsur dari luar, kemudian menggunakannya sebagai bagian dari identitas lokal.

Penelitian Suparti dan Umam menyimpulkan bahwa motif hariang dan Tapak Kebo yang terus digunakan telah menjadi identitas visual masyarakat Baduy, meskipun asal produksinya bukan dari wilayah adat Kanekes.

Di sinilah lomar menyimpan cerita yang lebih panjang daripada sekadar kain penutup kepala.

Ada perjalanan perdagangan, perjumpaan budaya, kreativitas, dan proses penerimaan pengaruh luar yang berlangsung secara selektif.

Masyarakat Baduy Luar tidak serta-merta kehilangan identitas ketika menggunakan motif yang berasal dari luar. Sebaliknya, motif tersebut kemudian dikenal luas sebagai salah satu ciri penampilannya.

Bahan Kain dan Tradisi Menenun Masyarakat Baduy

Berbicara mengenai lomar juga tidak dapat dilepaskan dari tradisi tekstil masyarakat Kanekes.

Masyarakat Baduy memiliki tradisi menenun yang diwariskan secara turun-temurun, terutama kepada kaum perempuan.

Aktivitas menenun bukan hanya kegiatan ekonomi, melainkan juga bagian dari pemenuhan kebutuhan sandang dan pewarisan keterampilan antargenerasi.

Album Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2020 mencatat Tenun Baduy sebagai warisan budaya yang tersebar di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak. Maestro yang dicatat dalam dokumentasi tersebut adalah Jaro Saija.

Dalam proses tradisionalnya, masyarakat menggunakan alat tenun gedogan dengan sistem berlungsi tak lanjut.

Bahan pembuatan benang secara historis berasal dari dua sumber, yakni daun pelah dan kapas.

Daun pelah merupakan tumbuhan yang daunnya menyerupai daun salak. Untuk memperoleh seratnya, daun muda direbus terlebih dahulu hingga seratnya mudah dipisahkan.

Sementara itu, penggunaan kapas dilakukan dengan menjemur buah kapas yang telah matang, memisahkan serat dari kulitnya, kemudian mengembangkan serat tersebut sebelum dipintal menjadi benang.

Seiring waktu, kapas semakin banyak digunakan karena proses pengolahannya dianggap lebih mudah.

Tradisi tekstil tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat Kanekes memiliki pengetahuan tersendiri mengenai bahan alam dan pengolahannya menjadi kebutuhan hidup.

Namun, ada hal yang harus dibedakan ketika membicarakan bahan lomar.

Tidak semua lomar yang beredar sekarang merupakan kain tenun hasil produksi masyarakat Baduy. Ada lomar yang menggunakan kain batik dari luar daerah, bahkan menggunakan teknik batik cap atau batik printing.

Buku Komunikasi Pariwisata, Budaya dan Pengembangan Potensi Daerah juga mencatat bahwa motif Tapak Kebo pada kain ikat kepala bukan hasil produksi batik masyarakat Baduy, melainkan dibuat oleh pihak luar.

Dengan demikian, tradisi menenun Baduy dan produksi kain batik untuk lomar merupakan dua hal yang berkaitan dengan busana masyarakat Kanekes, tetapi tidak boleh dianggap sebagai satu proses produksi yang sama.

Perbedaan tersebut penting agar masyarakat tidak salah memahami seolah-olah seluruh kain lomar bermotif merupakan hasil tenun atau batik asli buatan warga Baduy.—(***)

*). Bagian 3 Lomar Baduy: Pikukuh Karuhun, Kesederhanaan, dan Identitas Adat

 

Pos terkait