Lebak, BantenGate.id – Sekolah Ilalang (Ilalang School) Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, menerima kunjungan mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) La Tansa Mashiro dalam kegiatan akademik di luar kelas bertajuk STAI La Tansa Mashiro Goes to Ilalang School.
Kegiatan tersebut mengangkat tema Memahami Fitrah Anak dalam Perspektif dan Implementasi dalam Praktik Pendidikan.
Melalui kunjungan ini, para mahasiswa Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) dan Pendidikan Agama Islam (PAI) diajak dan belajar mengenal lebih dekat konsep pendidikan berbasis fitrah sekaligus melihat penerapannya secara langsung di lingkungan Sekolah Ilalang.
Founder Ilalang School, Apriyadi atau yang biasa disapa Abah Apri, mengatakan kunjungan tersebut menjadi kesempatan berharga bagi mahasiswa calon pendidik untuk memperluas perspektif mengenai hakikat pendidikan anak.
Menurutnya, pemahaman tentang fitrah merupakan salah satu landasan penting dalam mendidik anak. Pendidikan tidak semestinya hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga perlu memahami potensi, keunikan, tahapan perkembangan, dan kebutuhan alami setiap anak.
Abah Apri mengungkapkan, ada dua tokoh yang banyak memberikan inspirasi dan pemahaman kepadanya mengenai pendidikan berbasis fitrah, yakni Ustaz Harry Santosa dan Ustaz Adriano Rusfi.
Ia menilai, keduanya konsisten menyampaikan sekaligus merumuskan konsep Fitrah Based Education (FBE) menjadi pendekatan yang lebih mudah dipahami dan diterapkan dalam kehidupan pendidikan sehari-hari.
“Fitrah Based Education itu seperti mata air yang tidak pernah habis untuk kita ambil sebagai penghapus dahaga di tengah kekeringan ruh pendidikan kita hari ini,” kata Abah Apri kepada media, Minggu (8/11/2026).
Ia berharap, semakin banyak calon pendidik yang mempelajari konsep pendidikan berbasis fitrah sehingga memiliki cara pandang yang lebih utuh dalam mendampingi tumbuh kembang anak.
Menurutnya, kesempatan mahasiswa untuk belajar langsung di lingkungan pendidikan alternatif seperti Ilalang School menjadi pengalaman penting. Mereka tidak hanya memperoleh pemahaman secara teoritis, tetapi juga dapat mengamati bagaimana prinsip-prinsip pendidikan berbasis fitrah diterapkan dalam praktik.
Abah Apri juga berharap ilmu yang dibagikan dan dikembangkan oleh para perumus Fitrah Based Education menjadi amal jariyah yang terus mengalir.
“Alhamdulillah, didatangkan pemuda-pemudi mahasiswa calon pendidik untuk mempelajari fitrah. Semoga menjadi cara pandang baru tentang pentingnya mendidik fitrah,” tuturnya.
Ia pun berpesan agar para mahasiswa terus bersemangat dalam belajar, berguru, dan mengembangkan berbagai proyek pendidikan.
Kunjungan akademik ini diharapkan dapat memperkaya wawasan mahasiswa STAI La Tansa Mashiro sekaligus membuka ruang dialog antara teori pendidikan yang dipelajari di bangku perkuliahan dengan praktik pendidikan yang berorientasi pada fitrah anak.–(dian wahyudi)








