Selong, BantenGate.id — Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Selong turut menyemarakkan Lombok Vespa Festival yang digelar di Lapangan Porda Selong, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Jumat (25/9/2026).
Dalam kegiatan tersebut, para WBP menampilkan dua kesenian tradisional khas Lombok, yakni Peresean dan Cilokaq. Penampilan tersebut menjadi bagian dari program pembinaan yang memberikan ruang kepada WBP untuk mengembangkan potensi, kreativitas, sekaligus menumbuhkan kepercayaan diri.
Pertunjukan Peresean dan Cilokaq mendapat perhatian dalam rangkaian kegiatan festival. Para WBP tampil antusias dan kompak membawakan kesenian tradisional yang menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Lombok.
Keterlibatan WBP dalam kegiatan masyarakat juga menunjukkan bahwa pembinaan di Lapas tidak hanya berfokus pada pengembangan keterampilan, tetapi mencakup pembentukan kepribadian dan penguatan nilai-nilai budaya.

Kepala Lapas Kelas IIB Selong, Sudirman, mengatakan kesempatan bagi WBP untuk tampil di tengah masyarakat merupakan bagian penting dari proses pembinaan dan reintegrasi sosial.
“Kami ingin memberikan kesempatan kepada WBP untuk terus mengembangkan potensi positif yang mereka miliki. Melalui Peresean dan Cilokaq, mereka tidak hanya berkarya, tetapi juga ikut menjaga dan memperkenalkan budaya Lombok,” ujar Sudirman.
Menurutnya, kegiatan seperti Lombok Vespa Festival dapat menjadi wadah bagi WBP untuk menunjukkan kemampuan yang diperoleh selama menjalani program pembinaan di Lapas.
Selain mengasah kreativitas, keterlibatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan rasa percaya diri dan semangat WBP untuk terus berkarya. Pengalaman tampil di hadapan masyarakat juga menjadi bagian dari proses mempersiapkan WBP sebelum kembali menjalani kehidupan di tengah masyarakat.
Keikutsertaan WBP Lapas Kelas IIB Selong dalam Lombok Vespa Festival sekaligus menjadi gambaran bahwa program pemasyarakatan diarahkan untuk membangun pribadi yang lebih positif, produktif, serta memiliki keterampilan dan nilai budaya sebagai bekal setelah menyelesaikan masa pembinaan.--(harpan)








