Permainan Bebentengan, Lomba Bakiak dan Gobag Sodor, Akan Meriahkan Seba Baduy 2026

Permainan Bebentengan, Lomba Bakiak dan Gobag Sodor, Akan Meriahkan Seba Baduy 2026

Lebak, Bantengate.id — Kehadiran permainan tempo dulu seperti bebentengan, lomba bakiak, dan gobag sodor akan memeriahkan rangkaian Seba Baduy 2026 yang digelar pada 23–24 April 2026 di Kota Rangkasbitung.

Lomba yang diperuntukkan bagi siswa SD dan SLTP tersebut bukan sekadar menghadirkan nostalgia, melainkan menjadi upaya menanamkan nilai budaya kepada generasi muda, seperti kebersamaan, kesederhanaan, kerja sama, dan kejujuran.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lebak, Iwan Setiawan Amarulah, mengatakan permainan anak-anak tempo dulu sengaja dihadirkan dalam rangkaian Seba Baduy agar nilai budaya tetap hidup di tengah perubahan zaman.

“Kami mengajak anak-anak kembali menemukan kegembiraan melalui permainan yang sederhana—berlari di tanah lapang, tertawa bersama, dan belajar dari permainan,” kata Iwan di sela persiapan Seba Baduy, Senin (20/4/2026).

Menurutnya, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) sebagai penanggung jawab kegiatan mengajak masyarakat Lebak, khususnya generasi muda, tidak hanya memeriahkan tradisi, tetapi juga menyerap pesan yang diwariskan. Kebahagiaan, kata dia, lahir dari kebersamaan, dan budaya akan terus hidup melalui generasi yang menjaganya.

Iwan menjelaskan, setiap tim lomba bebentengan berjumlah lima orang, sedangkan lomba bakiak dalam satu tim sebanyak tiga orang. Seluruh perlombaan rencananya digelar di Alun-alun Rangkasbitung pada Jumat sore (24/4/2026), sebagai bagian dari rangkaian penyambutan Seba Baduy.

Jumlah warga Baduy Dalam  (Baduy Jero) dan Baduy Luar, yang akan hadir ke Pendopo Lebak untuk menemui Bapak Gede (Bupati Lebak) sekitar 1.750 orang. Warga Baduy Jero dari Kanekes menuju Kota Rangkasbitung dilakukan dengan berjalan kaki. Sementara bagi warga Baduy Luar,  naik kendaraan.

Permainan bebentengan menghadirkan dua kelompok yang saling menjaga “benteng” masing-masing. Anak-anak berlari cepat mencari celah untuk menyentuh benteng lawan. Selain mengasah strategi dan keberanian, permainan ini juga membangun rasa saling percaya. Setiap pemain memiliki peran, dan kemenangan hanya dapat diraih melalui kerja sama. Dari sini, anak-anak belajar bahwa kebersamaan merupakan kekuatan utama—sejalan dengan nilai hidup masyarakat Baduy yang menjunjung solidaritas.

Berbeda dengan itu, balap bakiak menuntut kekompakan langkah. Beberapa siswa berdiri di atas papan kayu panjang dan harus berjalan dengan irama yang sama. Pada awalnya mereka tertatih, bahkan terjatuh, namun perlahan mulai menemukan keselarasan. Permainan ini menanamkan pentingnya komunikasi dan kesabaran, sekaligus mengajarkan bahwa keberhasilan hanya dapat dicapai jika berjalan bersama.

Sementara itu, gobag sodor menghadirkan tantangan ketangkasan dan sportivitas. Anak-anak berusaha melewati garis pertahanan lawan tanpa tersentuh. Mereka harus cepat, fokus, dan tetap mematuhi aturan. Ketika tersentuh, pemain dengan jujur berganti peran. Dari permainan ini, anak-anak belajar tentang kejujuran, disiplin, dan menghargai aturan sebagai bagian penting dalam kehidupan bermasyarakat.

Rangkaian permainan tempo dulu ini bukan sekadar hiburan penyambut Seba Baduy. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang pembelajaran karakter bagi generasi muda. Bebentengan mengajarkan keberanian dan kerja sama, balap bakiak menanamkan kekompakan, sedangkan gobag sodor membentuk sportivitas serta kejujuran.

Melalui permainan sederhana, anak-anak diajak memahami bahwa kebudayaan tidak selalu hadir dalam bentuk seremoni besar. Ia juga hidup dalam tawa, dalam langkah yang serempak, dan dalam semangat saling menjaga. Dari halaman lapang itu, diharapkan nilai-nilai tradisi tumbuh kembali—mengiringi semangat Seba Baduy yang menekankan harmoni, kebersamaan, dan kesederhanaan sebagai jalan hidup.–(ridwan)

Pos terkait