Seba Baduy: Perjalanan Spritual dan Pesan Leluhur di Tengah Arus Modernisasi

Seba Baduy: Perjalanan Spritual dan Pesan Leluhur di Tengah Arus Modernisasi
Edi Murpik

Oleh: Edi  Murpik

“Setiap tahun, ketika ribuan warga Baduy berjalan kaki menuju pusat pemerintahan di Kabupaten Lebak dan Provinsi Banten, banyak orang bertanya: apa sebenarnya hakikat Seba Baduy?.. Bagi sebagian masyarakat, Seba mungkin dimaknai secara sederhana—orang Baduy datang berombongan ke Pendopo Lebak, menemui “Bapak Gede” (Bupati), berbincang, menyerahkan hasil bumi sebagai tanda kadeudeuh, lalu pulang. Selesai.”

Namun, bagi masyarakat Baduy yang menetap di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Seba bukan sekadar seremoni adat atau agenda tahunan. Ia adalah perjalanan suci. Sebuah pengabdian. Sebuah pengakuan dan penghormatan kepada pemimpin. Sebuah penegasan hubungan antara masyarakat adat, alam, dan kekuasaan yang harus dijalankan dalam keseimbangan.

Seba tidak berdiri sendiri. Ia merupakan puncak dari rangkaian ritual panjang yang diawali dengan Kawalu—masa puasa selama tiga bulan. Dalam periode ini, kawasan Baduy ditutup bagi pendatang. Tidak ada wisatawan, tidak ada kunjungan. Orang Baduy memilih menyepi. Mereka membersihkan diri, hati, dan pikiran. Kawalu adalah masa kontemplasi, ketika masyarakat adat kembali pada kesunyian dan menguatkan ikatan spiritual dengan leluhur.

Tradisi puasa seperti Kawalu bukanlah sesuatu yang asing dalam perjalanan spiritual manusia. Dalam Islam, umat menjalankan puasa Ramadan sebagai proses pensucian diri dan pengendalian hawa nafsu. Dalam tradisi Kristen, dikenal masa Prapaskah atau Lent, periode refleksi sebelum Paskah. Umat Hindu mengenal berbagai bentuk tapa atau brata, seperti Nyepi di Bali yang menekankan keheningan total. Dalam Buddhisme, praktik Uposatha juga menjadi waktu menahan diri dan memperdalam kesadaran.

Di titik ini, Kawalu memperlihatkan bahwa masyarakat Baduy memaknai puasa sebagai perjalanan spiritual universal: menahan diri, menyucikan batin, lalu kembali ke dunia sosial dengan sikap yang lebih bijak. Seba kemudian menjadi langkah keluar dari kesunyian itu—langkah yang bukan sekadar fisik, tetapi juga simbol pengabdian setelah proses penyucian.

Secara historis, Seba diyakini telah berlangsung sejak abad ke-15. Beberapa peneliti mengaitkannya dengan masa awal terbentuknya hubungan antara komunitas Baduy dengan kekuasaan di wilayah Banten. Dalam berbagai catatan etnografi, termasuk penelitian antropolog Belanda abad ke-19 dan awal abad ke-20, disebutkan bahwa masyarakat Baduy memiliki tradisi menyerahkan hasil bumi kepada penguasa sebagai bentuk loyalitas simbolik, bukan sebagai pajak.

Tradisi ini kemudian berlanjut pada masa Kesultanan Banten. Seba dipahami sebagai bentuk komunikasi adat antara masyarakat Baduy dengan otoritas politik. Masyarakat Baduy datang bukan sebagai rakyat yang meminta, melainkan sebagai penjaga keseimbangan yang menyampaikan amanat leluhur. Mereka membawa hasil bumi: gula aren, pisang, beras huma, madu hutan. Semua itu bukan sekadar pemberian, melainkan simbol bahwa alam masih terjaga.

Dalam makna yang lebih dalam, Seba adalah pengingat bagi pemimpin. Bahwa kekuasaan harus selaras dengan alam. Bahwa pembangunan tidak boleh merusak keseimbangan. Bahwa masyarakat adat bukan objek, melainkan penjaga nilai yang telah bertahan ratusan tahun.

Namun, makna sakral itu kini berhadapan dengan realitas zaman yang berubah. Modernisasi pelan-pelan menyentuh kehidupan masyarakat Baduy. Perubahan itu bahkan dirasakan oleh akademisi dari University of Leiden, Jet Bakels, yang pertama kali datang ke Baduy pada 1983–1984. Saat itu, ia menyaksikan kehidupan masyarakat Baduy yang nyaris tak tersentuh arus luar.

Empat dekade kemudian, ketika ia kembali pada 2026, lanskap sosial itu berubah. Dulu perjalanan menuju Baduy adalah perjalanan menuju kesunyian. Hutan rapat, jalur setapak lengang, kehidupan berjalan mengikuti irama alam. Kini, langkah-langkah pengunjung semakin ramai. Kamera, telepon genggam, hingga percakapan media sosial mulai menjadi pemandangan di pinggiran wilayah adat.

Bakels mengungkapkan kekhawatirannya terhadap meningkatnya kunjungan wisatawan dan dampak lingkungan yang menyertainya. Sampah, perubahan perilaku, hingga tekanan ekonomi menjadi ancaman baru bagi keseimbangan hidup masyarakat Baduy. Padahal, keseimbangan itu adalah inti dari sistem nilai mereka—hidup sederhana, berjalan kaki, menolak kendaraan bermotor, serta menjaga relasi harmonis dengan alam.

Di sinilah Seba menemukan relevansinya di masa kini. Seba bukan hanya tradisi lama, tetapi juga pesan kontemporer. Ketika masyarakat Baduy berjalan kaki berhari-hari menuju pusat pemerintahan, mereka seolah mengingatkan bahwa dunia modern bergerak terlalu cepat. Mereka menunjukkan bahwa kesederhanaan masih mungkin. Bahwa keseimbangan alam masih bisa dijaga. Bahwa pembangunan tidak harus selalu berarti percepatan.

Namun, realitasnya perubahan juga terjadi dari dalam. Sebagian masyarakat Baduy Luar mulai berinteraksi lebih intens dengan dunia luar. Wisata budaya berkembang. Ekonomi uang mulai masuk. Teknologi perlahan dikenal. Semua itu tak bisa dihindari. Modernisasi adalah arus besar yang sulit dibendung.

Kekhawatiran terhadap perubahan drastis itu pernah diungkapkan Jaro Oom, dalam bincang santai saat saya berkunjung ke Kadu Ketug, pada akhir Fabruari 2026 lalu.  Jaro Oom,  adalah Kepala Desa Kanekes sebagaimana diatur dalam Undang-Undang tentang Desa. Namun, Kepala Desa Kanekes tidak dipilih langsung oleh rakyat, melainkan berdasarkan persetujuan Puun (pemimpin tertinggi masyarakat Baduy) dan lembaga adat.

Seorang Kepala Desa Kanekes bertanggung jawab kepada Bupati Lebak melalui Camat Leuwidamar, sekaligus kepada lembaga adat. Tugasnya tidak ringan. Jika tidak mengikuti aturan adat, ia berisiko diusulkan untuk diberhentikan. Jika tidak menjalankan aturan sesuai Undang-Undang Desa, ia dapat dikenai teguran oleh Inspektorat.

Menurut Jaro Oom, masyarakat Baduy terbagi menjadi dua kelompok. Pertama, Baduy Dalam atau Baduy Jero yang menetap di tiga kampung tangtu: Cibeo, Cikertawana, dan Cikeusik. Masyarakat di tiga kampung ini hingga kini sangat memegang teguh aturan adat leluhur.

Kedua, Baduy Luar atau Baduy Panamping yang tersebar di sekitar 73 kampung. Mereka dikenal dengan pakaian berwarna hitam. Peran kedua kelompok ini telah diatur dalam adat. Baduy Jero menjadi panutan dalam kehidupan, sementara Baduy Panamping berperan sebagai penjaga yang membentengi pengaruh luar agar tidak masuk ke wilayah Baduy Dalam.

Jaro Oom mengakui bahwa adat istiadat leluhur Baduy kini mulai terancam, bahkan sebagian sudah “jebol”. Karena itu, ketika kawasan Baduy menjadi sasaran kunjungan wisatawan, lembaga adat dan masyarakat Baduy menyampaikan penolakan.

“Masyarakat Baduy bukan tontonan, tapi tuntunan. Kami warga Baduy ditugaskan untuk menjaga dan memelihara alam, sebagai warisan leluhur yang diamanatkan oleh Sanghyang Batara Tunggal.  Dan kami akan menerima siapapun yang datang untuk melakukan saba (silaturahim),” kata Jaro Oom.

Filosofi masyarakat Baduy pun menegaskan prinsip tersebut: nu lojor teu beunang diteukteuk, nu pondok teu beunang disambung.

Pertanyaannya kemudian: apakah perubahan itu akan menghapus makna Seba? Ataukah Seba justru menjadi jangkar yang menjaga identitas?…

Jawabannya mungkin terletak pada kesadaran semua pihak. Pemerintah, wisatawan, dan masyarakat luas perlu memahami bahwa Seba bukan tontonan. Ia bukan festival budaya. Ia adalah perjalanan spiritual yang telah berlangsung ratusan tahun.

Seba mengajarkan bahwa sebelum berbicara kepada pemimpin, masyarakat Baduy lebih dulu berbicara kepada diri sendiri—melalui Kawalu, melalui puasa, melalui kesunyian. Baru setelah itu mereka berjalan, membawa hasil bumi, menyampaikan pesan tanpa tuntutan.

Di tengah dunia yang semakin bising, Seba Baduy justru hadir sebagai perjalanan sunyi. Langkah-langkah kaki tanpa alas itu mengandung makna yang lebih dalam dari sekadar tradisi. Ia adalah pengingat bahwa manusia harus tetap rendah hati di hadapan alam, tetap setia pada leluhur, dan tetap menghormati pemimpin dengan cara yang bermartabat.

Selama langkah itu masih berjalan setiap tahun, selama Kawalu masih dijalani dengan khidmat, dan selama hasil bumi masih diserahkan dengan tulus, Seba Baduy akan tetap menjadi simbol pengabdian—sebuah perjalanan suci yang menjaga keseimbangan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.–(***)

*). Penulis Pengurus Paguyuban Pasundan di Banten

Pos terkait